Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unsika Languages Culture Club (ULCC) sukses menggelar kegiatan Fun Teaching di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Nagasari 1 Karawang, Selasa (21/7/2026). 

 

Ketua pelaksana Fun Teaching, Fajri Auladi, menjelaskan kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan mengenalkan bahasa Inggris dan budaya lokal kepada siswa melalui metode pembelajaran menyenangkan. 

 

“Kegiatan Fun Teaching ULCC ini merupakan kegiatan mengabdi ke masyarakat dari UKM ULCC ke sekolah-sekolah di Karawang. Selain mengabdi ke masyarakat, (kami) juga membantu anak-anak sekolahnya belajar mengenali bahasa asing terutama bahasa Inggrisnya. Jadi, selain bahasa Inggris kita juga (mengenali) kebudayaan lokal gitu,” jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Selasa (21/7/2026). 

 

Kegiatan tersebut melibatkan sebanyak 52 panitia dan volunter dengan target peserta lebih dari 200 siswa kelas 1 serta kelas 3. 

 

“Untuk volunter sendiri ada 16 orang sudah termasuk koordinatornya. Jadi, koordinator volunter itu sudah di-plotting melalui kepanitiaan. Jadi, masuknya panitia. Tapi untuk anggotanya itu volunter saja. Sementara untuk di keseluruhan itu ada 52 orang termasuk volunter itu sendiri. Target peserta itu 200-an orang lebih,” jelas Fajri.

 

Volunter yang direkrut melalui open recruitment telah mengikuti pelatihan intensif sebelum hari pelaksanaan. Menurut Fajri, pelatihan dilakukan agar para volunter siap menyampaikan materi sekaligus menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan.

 

"Kita mengadakan pelatihan selama at least (setidaknya) empat kali dalam dua minggu. Jadi, memang dipersiapkan supaya volunter siap mengajar," ungkapnya. 

 

Menurut Fajri, pemilihan kelas 1 dan kelas 3 sebagai target peserta dinilai cocok dengan materi pengajaran yang ingin diajarkan. 

 

“Karena pertama-tama aku menangkapnya kelas 1 dan kelas 3 itu masih bisa di-handle secara materi. Tapi untuk kelas 4 sampai kelas 5 itu aku ngelihatnya secara materi mereka udah harus lebih mateng dikit gitu. Walaupun mungkin risikonya untuk kelas 1 kurang kondusif dan mereka belum bisa diajarkan menulis dan membaca, paling memperagakan dan juga having fun dulu gitu,” jelasnya.

 

Dokumentasi saat kegiatan pengajaran berlangsung, Selasa (21/7/2026). 

 

Fajri juga menjelaskan, Fun Teaching telah dilaksanakan di beberapa sekolah sebelumnya. Pada tahun ini, SDN Nagasari 1 dipilih setelah melalui proses survei dan penyesuaian jadwal dengan pihak sekolah.

 

"Kita berkunjung ke pihak sekolahnya dan pihak sekolahnya menyambut kita. Beberapa kali survei dilakukan, mulai dari menentukan kesediaan tanggal, survei kelas, hingga persiapan opening ceremony dan closing ceremony," katanya. 

 

Berbeda dengan pembelajaran di kelas pada umumnya, Fun Teaching menggabungkan penyampaian materi dengan berbagai aktivitas interaktif, seperti permainan dan ice breaking agar siswa lebih antusias mengikuti proses belajar.

 

"Selain belajar mengabdi dan mengajar ke SD (Sekolah Dasar) itu kita sambil having fun. Jadi, kita mengadakan mini games, ice breaking, dan sebagainya," tambah Fajri. 

 

Dokumentasi kegiatan saat siswa bermain bersama, Selasa (21/7/2026). 

 

Salah satu volunter, Agnes, mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini karena sesuai dengan latar belakang pendidikannya dan menjadi kesempatan untuk mengasah kemampuan mengajar sebelum terjun ke dunia profesional.

 

"Menurut aku ini adalah salah satu wadah supaya aku bisa mengasah diri sebelum aku ke jenjang profesional. Makanya aku pilih menjadi volunter," ujarnya saat diwawancarai secara langsung, Selasa (21/7/2026). 

 

Agnes mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat mengajar siswa SD kelas 1 adalah menjaga fokus anak-anak yang mudah terdistraksi. Meski demikian, ia menilai seluruh kegiatan dapat berjalan dengan baik.

 

"Paling di akhir aja anak-anak mulai gampang ke-distract dan ada yang pengen pulang, tapi selebihnya bisa kita handle," katanya. 

 

Menurut Agnes, salah satu pengalaman paling berkesan adalah melihat antusiasme siswa yang saling mencontoh perilaku baik selama kegiatan berlangsung.

 

"Ternyata anak kecil itu kalau satu orang melakukan hal baik, yang lain ikut semuanya. Mereka tanpa diminta sadar untuk melakukan hal baik juga," tuturnya. 

 

Agnes berharap kegiatan Fun Teaching dapat terus berkembang pada pelaksanaan berikutnya, baik dari segi jumlah volunter maupun pembekalan sebelum mengajar sehingga para volunter semakin siap menghadapi berbagai karakter siswa di kelas.

 

"Menurut aku sih sebenarnya untuk sekarang udah well prepared yaTapi mungkin kedepannya bisa lebih ditambah lagi kakak-kakak volunternya jadi enggak kewalahan dan cara mengajar itu bisa diajarin lagi dari awal supaya kita pun enggak kewalahan ketika ada anak yang nangis atau anak yang rewel ataupun berantem, kita bisa tahu gimana caranya meleraikan ataupun menangani mereka," tutup Agnes.

 

(EIN, GHI)