Perpustakaan Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) menyediakan beberapa platform yang dapat digunakan oleh mahasiswa secara daring, yakni website Unit Penunjang Akademik (UPA) Perpustakaan Unsika yang sudah tersedia sejak tahun 2019, Digital Library (Digilib) Unsika sejak tahun 2016, dan sistem lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan akademik maupun sekadar bahan bacaan. Website UPA Perpustakaan Unsika berfungsi sebagai pusat informasi layanan, sedangkan aplikasi Digilib digunakan untuk mengakses buku elektronik oleh mahasiswa.
Hal ini disampaikan oleh Kepala UPA Perpustakaan Unsika, Irawati Surjana, bahwa terdapat perbedaan fungsi dari kedua platform tersebut yang penting diketahui oleh mahasiswa sehingga kedepannya mahasiswa dapat memanfaatkan layanan perpustakaan secara optimal.
“Kalau website kan memang, dia merupakan database untuk informasi mengenai seputar perpustakaan Unsika, tapi kalau Digilib itu adalah salah satu aplikasi dari koleksi yang kami punya,” ucapnya saat diwawancarai langsung, Senin (6/4/2026).

Laman utama Website UPA Perpustakaan Unsika, Kamis (9/04/2026).
Menurut Irawati, website perpustakaan digunakan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai fasilitas yang tersedia, mulai dari layanan administrasi, jenis koleksi, hingga berbagai informasi lain yang berkaitan dengan perpustakaan. Dengan demikian, website menjadi media utama bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi lengkap terkait perpustakaan. Sementara itu, aplikasi Digilib Unsika memiliki fungsi yang berbeda.
“Fungsi website itu kan sebetulnya sebagai sarana untuk memperkenalkan perpustakaan Unsika, memberikan informasi mengenai perpustakaan Unsika, ada apa aja di sana, ada layanan apa saja, ada koleksinya apa saja gitu, kemudian segala hal yang ada hubungannya mulai dari administrasi hingga layanan dan koleksi yang kita miliki semuanya ada di situ,” ujarnya.

Laman utama aplikasi Digilib Unsika, Kamis (9/04/2026).
Digilib merupakan platform khusus yang disediakan oleh PT. Enamkubuku untuk mengakses koleksi buku elektronik (e-book) dari Graha Ilmu dan beberapa penerbit lain yang bekerja sama dengan PT. Enamkubuku. Aplikasi ini dapat dimanfaatkan mahasiswa dan civitas akademika dengan mengakses akun yang diperoleh melalui pihak administrasi perpustakaan.
“Digilib dari PT. Enamkubuku, jadi dia buku-bukunya banyak dari Graha Ilmu, kemudian beberapa dari penerbit-penerbit lain yang bekerja sama,” jelas Irwanti.
Lebih lanjut, Irawati menambahkan bahwa keberadaan website dan Digilib tidak saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. Website berperan sebagai ‘rumah’ utama yang memuat berbagai informasi, sedangkan Digilib merupakan salah satu layanan yang tersedia di dalamnya, khususnya untuk membaca buku digital.
“Istilahnya, kalau website itu adalah rumahnya, kemudian Digilib itu adalah salah satu isi rumahnya itu,” tambahnya.
Terkait akses pengguna, Irawati menyebutkan bahwa layanan Digilib pada dasarnya diperuntukkan bagi mahasiswa dan dosen yang masih aktif. Alumni secara umum tidak lagi menjadi pengguna utama layanan tersebut, meskipun dalam beberapa kondisi akses masih dapat digunakan selama akun tidak dibatasi oleh sistem.
“Sampai saat ini khusus mahasiswa yang masih aktif, mahasiswa dan dosen yang memang aktif, jadi kalau sudah alumni itu biasanya nggak boleh,” sebutnya.
Dari sisi penggunaan, Digilib dapat diakses secara fleksibel selama 24 jam dengan koneksi internet. Saat ini, tersedia ribuan judul buku elektronik yang dapat dimanfaatkan pengguna untuk menunjang kegiatan akademik maupun kebutuhan literasi lainnya. Aplikasi ini juga dapat diakses dari berbagai perangkat, baik melalui ponsel maupun komputer.
“Nanti anda bisa akses itu di manapun kapanpun 24 jam, bisa dari rumah, bisa dari kampus, selama ada koneksi internet, selama anda terkoneksi internet itu bisa di akses, gitu. ada lebih dari 3.000 judul buku ya,” tutur Irwanti.
Meskipun demikian, Irwanti menuturkan bahwa masih terdapat kendala dalam pemanfaatan layanan tersebut, terutama terkait kurangnya pemahaman mahasiswa mengenai perbedaan fungsi antara website dan aplikasi Digilib. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan sosialisasi agar seluruh mahasiswa dapat memaksimalkan fasilitas yang tersedia, walaupun pada kenyataannya pihak perpustakaan sebenarnya telah rutin melakukan sosialisasi terkait penggunaan e-book dan e-jurnal kepada mahasiswa.
“Alhamdulillah, kalau mahasiswa yang sudah tau mungkin mereka antusias ya, karena ternyata ada, loh. Jadi disangkanya misalnya, bukunya cuman ini doang ga ada lagi, padahal kami masih punya ribuan buku lain yang tersedia di platform gitu kan, ada di aplikasi tapi kan tidak tahu. Padahal kami setiap tahun selalu mengadakan sosialisasi, sosialisasi untuk penggunaan e-book maupun e-jurnal,” tuturnya.
Irwanti mengungkapkan perpustakaan Unsika sendiri telah menyediakan berbagai saluran untuk menampung kritik dan saran dari pengguna, baik melalui menu khusus di website maupun layanan komunikasi seperti WhatsApp. Masukan dari mahasiswa dinilai penting sebagai dasar evaluasi dan pengembangan layanan ke depannya.
“Karna kita ga bisa berkembang kalo ga ada kritik dan saran masukan dari mahasiswa,” ungkapnya.
Irwanti mengatakan bahwa kedepannya pihak perpustakaan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan, baik dari segi koleksi, fasilitas, maupun kenyamanan ruang baca sehingga seluruh mahasiswa Unsika dapat lebih aktif memanfaatkan perpustakaan, baik secara langsung maupun melalui layanan digital yang tersedia.
“Harapan saya, minimal kami bisa menggunakan seluruh empat lantai ini untuk keperluan perpustakaan, jadi akan ada ruangan-ruangan yang akan bisa lebih nyaman untuk seluruh pemustaka dan pengunjungnya nanti. Saya berharap mahasiswa Unsika bisa lebih aktif memanfaatkan perpustakaan karna mungkin tidak semuanya senang datang ke perpustakaan, tapi kan ada koleksi-koleksi yang bisa diakses secara online, jangan sia-siakan fasilitas yang ada, serta saran-saran kritik mahasiswa juga kami harap itu ada, selain pemanfaatan itu sendiri,” tutupnya.
Penulis: CBS, PNY