Genangan air di Kampus 2 Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) bukan lagi persoalan musiman semata. Di tengah pembangunan kawasan kampus yang terus berlangsung, persoalan drainase perlahan menjadi keluhan berulang bagi mahasiswa, dosen, hingga petugas kampus sejak banjir sering terjadi. Area parkiran becek, jalan ambles, hingga air yang bertahan berhari-hari setelah hujan memperlihatkan persoalan infrastruktur belum terselesaikan secara menyeluruh.

 

Berdasarkan pantauan dan wawancara yang dilakukan redaksi sejak awal Mei hingga pertengahan Mei 2026, genangan paling sering muncul di area parkiran depan, jalur masuk kendaraan, hingga sekitar kontainer perkuliahan di Kampus 2 Unsika.

 

“Kalau musim hujan sering banget lihat banjir di daerah parkiran,” ujar mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Unsika, Zi, saat diwawancarai langsung pada Senin  (4/5/2026).

 

Potret kondisi jalan berlubang di kawasan Kampus 2 Unsika, Karawang, Senin (4/5/2026).

 

Menurut Zi, genangan muncul akibat kondisi jalan yang tidak rata dan saluran pembuangan air yang dinilai belum memadai. Air kerap berkumpul di titik tertentu dan menyebabkan area parkiran berubah menjadi becek serta berlumpur. Genangan juga sering muncul di sekitar tangga menuju kabin kontainer dan jalur keluar-masuk kendaraan.

 

“Sering banget ngelihatnya banyak banget genangan air, lumpur juga. Lebih  ke daerah parkiran depan yang pas mau masuk sama keluar, gate belokan. Di area parkirnya gak banjir paling bagian depan aja, biasanya di yang tangga yang mau masuk ke kabin, kontainer, misalkan gerimis pun juga becek. Karena, kalau dilihat dari tata letak gitu ya. Itu salurannya tuh kurang, jadinya genangan airnya makin banyak walaupun hujannya juga cuman sebentar. Jalanannya tuh juga kurang rata,” jelasnya.

 

Kondisi tersebut dinilai mengganggu aktivitas perkuliahan sehari-hari. Mahasiswa mengaku sepatu dan kaus kaki sering basah sebelum masuk kelas. Dalam beberapa kondisi, dosen bahkan meminta mahasiswa meletakkan sepatu di luar ruangan karena kotor akibat lumpur dan air genangan.

 

“Kadang dosen nyuruh sepatu ditaruh di luar karena basah dan kotor,” mahasiswa Fikes Unsika, Ri, saat diwawancarai langsung pada Senin (4/5/2026).

 

Keluhan mahasiswa tidak berhenti pada persoalan genangan semata. Mereka juga menyoroti kualitas fasilitas kampus dianggap belum sebanding dengan biaya pendidikan yang dibayarkan. Menurut mereka, mahasiswa datang dengan ekspektasi tinggi terhadap lingkungan kampus, terlebih bagi mahasiswa rantau yang memilih Unsika sebagai tempat menempuh pendidikan tinggi.

 

Enggak cuman soal banjir saja atau jalanan yang rusak tapi dengan fasilitas-fasilitasnya juga mungkin bisa lebih ditingkatkan. Karena melihat dari teman-teman saya yang  UKT-nya terlalu besar ya. Jadinya aduh kayak tidak sepadan dengan apa yang fasilitasnya diberikan. Semoga bisa lebih baik lagi dan bisa terealisasikan. Apalagi yang merantau, yang jauh-jauh Ekspektasinya pasti tinggi kalau kuliah,” ujar Q, mahasiswa Fikes Unsika, saat diwawancarai langsung pada Senin (4/5/2026).

 

 

Potret area parkir dengan paving block yang tidak rata di Kampus 2 Unsika, Karawang, Senin (4/5/2026).

 

Persoalan genangan di Kampus 2 turut mendapat sorotan dari mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Sipil Unsika, Ibrahim dan Noval. Dari sudut pandang teknis, keduanya menilai akar masalah berada pada sistem drainase kawasan yang belum dirancang secara optimal. Menurut mereka, sebagian besar area parkiran menggunakan paving block yang rentan mengalami penurunan permukaan apabila tanah dasar tidak dipadatkan dengan baik.

 

“Kalau paving block itu biasanya ada tanah yang turun. Jadi muncul spot-spot cekungan yang akhirnya jadi genangan,” ujar Ibrahim dan Noval saat diwawancarai langsung, Senin (4/5/2026).

 

Potret kondisi jalan yang tidak merata di area kampus 2 Unsika, Karawang, Senin (4/5/2026).

 

Mereka menjelaskan bahwa kondisi tanah Kampus 2 yang merupakan bekas lahan sawah juga menjadi faktor penting penyebab genangan. Jenis tanah lempung dinilai memiliki kemampuan resapan air yang rendah sehingga air hujan lebih mudah tertahan di permukaan.

 

“Terus juga kenapa ada genangan itu karena kan tanahnya bekas sawah, sawah itu tanahnya cenderung lempung yang enggak bisa ngeresap air dengan baik. Itu bisa juga memungkinkan untuk enggak bisa diserap dengan baik si airnya itu, yang mungkin juga curah hujannya juga lagi deras biasanya,” ujar mereka.

 

Selain faktor tanah, pembangunan gedung yang masih berlangsung disebut turut memperparah kondisi drainase. Material tanah dari kendaraan proyek kerap terbawa aliran air hujan dan menutup saluran yang ada. Bahkan menurut mereka, beberapa area parkiran belum memiliki sistem drainase yang benar-benar terintegrasi sehingga air langsung mengalir menuju area sawah di sekitar kampus.

 

“Faktornya mungkin dari ada proyek, apalagi ada dua proyek di sana. Proyek itu kan pasti ada residu tanah yang kebawa sama truk nah itu biasanya menyebabkan sumbatan di drainasenya, kebawa sama air-air yang mengalir itu biasanya bisa jadi sumbatan. Saya lihat sih untuk dari drainase yang ada di kampus dua itu memang enggak ada kalau untuk yang di daerah-daerah parkiran itu. Dan kalau yang di daerah jalan itu kan pasti airnya langsung ke sawah-sawahnya gitu,” jelas mereka.

 

Kondisi jalan yang terus dilalui kendaraan proyek bertonase besar juga dinilai memperbesar potensi ambles pada permukaan jalan. Mereka menilai apabila kondisi tersebut tidak diperbaiki secara menyeluruh, kerusakan jalan dan genangan akan terus berulang.

 

“Pasti ada kemungkinan untuk amblas karena itu kan tergantung dari perencanaan si pondasinya itu. Malah lebih besar kemungkinan untuk ambles daripada enggak sama sekali ambles. Apalagi sekarang di kampus dua sekarang lagi banyak pembangunan, otomatis makin banyak mobil-mobil besar yang lalu lalang, sedangkan jalan itu emang dari awal diperuntukkannya memang bukan buat mobil-mobil besar jadi ada kemungkinan tandanya makin lama makin ambles. Jadi mungkin setelah pembangunan bisa langsung diperbaiki saja gitu tanahnya, jalannya perlu maintenance,” tambah mereka.

 

Pandangan serupa disampaikan salah satu dosen Prodi Teknik Sipil Unsika, Dicki Dian Purnama. Ia menilai permasalahan utama genangan di Kampus 2 berasal dari sistem drainase kawasan yang belum terintegrasi secara menyeluruh. Menurutnya, pembangunan utilitas seperti drainase, listrik, dan jaringan air di kawasan kampus masih dilakukan secara bertahap sehingga beberapa bagian kawasan masih bersifat parsial.

 

“Infrastruktur utilitas seperti drainase, listrik, dan air masih dibangun bertahap sehingga beberapa bagian kawasan masih parsial,” jelasnya saat diwawancarai langsung, Rabu (13/5/2026).

 

Dosen Koordinator Prodi Ilmu Keolahragaan, Habibie Hadi Widjaya, juga mengakui bahwa genangan air sempat muncul di beberapa spot kampus, terutama jalur dari parkiran menuju gedung. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dipandang serius apabila mulai mengganggu akses mahasiswa maupun dosen menuju ruang perkuliahan.

 

“Kalau genangan air pada saat beberapa waktu lalu memang terjadi di beberapa spot seperti pintu masuk dari parkiran ke gedung lalu ada area taman. Kalo memang genangan air yg sifatnya itu menganggu akses mahasiswa atau dosen ke gedung, itu memang sangat serius. Karena kita ketahui bahwa hak para mahasiswa untuk bisa mengakses segala bentuk fasilitas yang ada di kampus,” ujarnya saat diwawancarai langsung, Senin (4/5/2026).

 

Ia menjelaskan bahwa pihak internal kampus sebenarnya telah melakukan penanganan sementara dengan membongkar beberapa saluran drainase yang tersumbat agar air lebih cepat mengalir. Namun, ia menilai semakin banyak pembangunan gedung di Kampus 2 membuat kebutuhan sistem drainase jangka panjang menjadi semakin penting.

 

“Kalau secara internal kampus pengelola gedung sudah dilakukan, sudah dilakukan tindakan dengan cara membongkar drainase supaya air genangan itu cepat terbuang. Tapi untuk pemeliharaan jangka panjang bisa direncanakan juga oleh pihak kampus karena semakin banyaknya gedung yang berdiri di sini maka harus memiliki drainase yang bagus,” tegasnya.

 

Keluhan serupa juga datang dari petugas keamanan Kampus 2, Dhani Hermawan dan Andre Ahmad Zerani. Mereka menyebut genangan cukup sering muncul setelah hujan deras, terutama di area depan kampus dan parkiran. Walaupun belum ada laporan kecelakaan serius akibat banjir, kondisi jalan yang licin dan tidak rata tetap dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan.

 

“Benar genangan air dan banjir cukup sering terjadi disini, terutama setelah hujan deras. Area yang paling sering terdampak berada di jalan depan kampus dan area parkir. Hingga saat ini sih belum ada laporan insiden mahasiswa atau dosen terjatuh karena banjir. Tapi kita tetap khawatir karena kondisi jalan yang licin dan gak rata bisa bahaya buat pengguna jalan,” ujar mereka saat diwawancarai langsung, Senin (4/5/2026).

 

Menurut mereka, solusi utama yang perlu dilakukan adalah pembangunan sistem drainase yang lebih baik dan penyesuaian elevasi jalan dengan saluran air agar air dapat mengalir secara optimal.

 

“Pihak kampus mungkin dapat melakukan perbaikan sistem drainase secara menyeluruh agar aliran air berjalan lebih lancar. Terus ketinggian jalan dan drainase juga perlu disesuaikan karena beberapa bagian jalan terlihat gak rata dan sudah mengalami penurunan permukaan.” tambah mereka.

 

Kepala Biro Perencanaan Keuangan dan Umum Unsika, Kurniawan, mengakui bahwa berbagai laporan terkait genangan di Kampus 2 memang telah diterima. Pihak kampus menyebut persoalan tersebut terjadi di tengah proses pembangunan kawasan yang masih terus berlangsung.

 

“Setiap hari kami mendapatkan laporan dari tim kami di Unsika 2 dan malah sudah saya cek, pastinya nantinya akan saya benerin nanti akan saya jadwalkan kembali dan kita sedang membangun. Sementara kita juga ada keterbatasan dan kekurangan karena masih banyak pembangunan yang masih berlangsung sehingga saat membangun diperlukan koordinasi,” ujarnya saat diwawancarai secara langsung, Senin (18/5/2026).

 

Ia menjelaskan bahwa pembangunan Kampus 2 masih menghadapi berbagai keterbatasan koordinasi dan sumber daya manusia sehingga beberapa pembangunan belum berjalan optimal, dan mengakui bahwa sistem drainase kawasan saat ini memang belum maksimal.

 

“Hal ini terkhususkan memang salah dari sistem koordinasi dan kita gak bisa menghindari kondisi ini. Dalam management proyek terdapat struktur, ada struktur kelembagaan, ada struktur teknis, ini yang susah buat nyambungnya karena bisa saja dari lemahnya SDM kita, hingga pengerjaan belum maksimal,” ujarnya.

 

Potret akses keluar-masuk mahasiswa kampus 2 menuju gedung, Karawang, Senin (4/5/2026).

 

Ia juga mengatakan pihak kampus telah menyusun rencana pembangunan drainase dan perbaikan jalan sebagai bagian dari pengembangan kawasan Kampus 2 Unsika. Namun, realisasi pembangunan tersebut masih menunggu penyelesaian desain kawasan secara keseluruhan.

 

“Rencananya nanti ada pembangunan drainase dan jalan baru, kemungkinan direalisasikan setelah desain kawasan selesai, sekitar tahun 2027,” ungkapnya. 

 

Selain itu, struktur tanah Kampus 2 yang disebut merupakan bekas rawa atau danau dinilai membuat permukaan jalan lebih mudah turun dan memicu genangan. Kondisi tanah yang kurang padat dinilai menjadi salah satu penyebab beberapa area mengalami penurunan permukaan. 

 

“Perihal kaveling turun karena bawahnya gak padet struktur tanahnya. Kalo ga salah itu juga dulunya rawa atau danau,” tuturnya.

 

Sebagai penanganan sementara, pihak kampus mengaku beberapa kali melakukan penyedotan air menggunakan mesin ketika banjir terjadi. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi genangan yang kerap muncul saat hujan turun.

 

“Karena banjirnya sering terjadi, paling genangannya disedot ulang pakai mesin,” ujarnya.

 

Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh satpam Kampus 2, Dhani Hermawan dan Andre Ahmad Zerani. Mereka menyebut pihak kampus pernah melakukan penanganan sementara berupa penyedotan air menggunakan mesin serta penggunaan alat bantu untuk mengurangi genangan. Menurut mereka, pihak kampus juga menerima berbagai masukan terkait kondisi tersebut.

 

“Pihak kampus pernah melakukan penanganan sementara seperti penyedotan air menggunakan mesin serta penggunaan alat bantu untuk mengurangi genangan. Untungnya pihak kampus juga merespons keluhan tersebut dengan baik dan menerima masukan yang diberikan,” ujar mereka saat diwawancarai langsung pada Senin (4/5/2026).

 

Persoalan genangan air di Kampus 2 Unsika menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur kampus masih menjadi perhatian mahasiswa, terutama Ibrahim dan Noval, mahasiswa Teknik Sipil Unsika. Tidak hanya menyoroti kondisi di Kampus 2, keduanya juga memberikan masukan terkait fasilitas di Kampus 1. Mereka menilai perbaikan jalan, penambahan drainase, penghijauan kawasan kampus, hingga fasilitas penunjang perkuliahan perlu menjadi perhatian pihak kampus.

 

“Jalan kan yang paling sering dipakai gitu. Apalagi jalan yang depan Fakultas Hukum itu, itu bisa tanahnya dinaikin atau ditambahin drainasenya. Terus kalau di Kampus 2 itu sediain banyak pohon deh. Soalnya panas banget. Terus yang proyek-proyek itu dikasih screen-nya gitu biar debunya enggak ke mana-mana, paling sama fasilitas-fasilitas vitalnya kayak jalan, gedung, terus juga fasilitas penunjang perkuliahan itu juga diperbanyak saja sih, soalnya untuk laboratorium khusus mahasiswa teknik aja belum ada,” ungkap mereka saat diwawancarai pada Senin (4/5/2026).

 

Di tengah pembangunan kawasan yang terus berlangsung, salah satu mahasiswa Fikes Unsika, Ri, juga berharap fasilitas dan kondisi lingkungan kampus dapat menjadi lebih baik ke depannya. Harapan tersebut muncul karena ia masih merasakan berbagai kendala selama menjalani aktivitas perkuliahan, mulai dari genangan air, kondisi jalan, hingga area parkir kampus. Menurutnya, biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang ia bayar belum sebanding dengan fasilitas yang tersedia. Ia juga berharap mahasiswa baru yang akan masuk nantinya tidak mengalami kondisi serupa.

 

“Semoga aja pas maba masuk semuanya jadi lebih baik  dari yang kemarin, semoga adik-adik juga jangan sampai ngerasain apa yang kita rasain pokoknya. Kita bayar segitu harus worth it-lah kuliahnya, udah bayar UKT paling ujung tapi fasilitasnya tuh kayak kurang memadai. Kita sudah bayar mahal-mahal tapi fasilitas itu enggak ada. Dari banjir, parkiran, jalannya rusak juga,” harapnya saat diwawancarai pada Senin (4/5/2026).

 

(MRZ dan YTZ)