Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) telah melaksanakan hari pertama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Acara yang akan dilaksanakan selama dua hari tersebut, diikuti oleh 4.167 mahasiswa baru (Maba) dari seluruh fakultas Unsika di Aula Syekh Quro, Kampus 1, Senin (27/7/2026).
Selain agenda seremonial seperti sidang senat dan pematerian mengenai kehidupan akademik kampus, acara juga diisi dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Republik Indonesia, Stella Christie, dengan tema “Artificial Intelligence (AI) untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi: Membangun Talenta Unggul, Adaptif, dan Berdampak di Era Transformasi Digital.” Bahkan, Stella juga menyinggung beberapa pertanyaan kritis kepada rektorat dan para dosen tentang tujuan dan fungsi pendirian universitas.
“Kalau kita hanya mengajarkan (pelajaran) yang itu-itu saja saya jamin anak-anak di (kampus) anda tidak akan bisa bersaing dengan saya. Karena apakah anda sebagai dosen sudah mengajarkan bagaimana menciptakan pengetahuan? Atau mungkin peran manusia itu sebagai apa?” ucapnya saat sesi orasi ilmiah berlangsung, Senin (27/07/2026).

Dokumentasi saat pematerian Stella Christie, Senin (27/72026).
Kehadiran Stella Christie merupakan salah satu momen paling berkesan bagi peserta. Salah satu Maba Program Studi (Prodi) Pendidikan Masyarakat, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Raja Fathir, mengaku sangat antusias bertemu dengan Stella meski tidak mendapat kesempatan untuk bertanya.
“Hal berkesan hari ini mungkin ya karena tadi bertemu Prof (Profesor) Christie, tadi dapat foto juga kebetulan. Walaupun enggak dapat kesempatan buat nanya,” ungkapnya saat diwawancarai langsung, Senin (27/07/2026).
1. Kendala Teknis PKKMB Unsika 2026
Namun, di balik meriahnya acara, pelaksanaan hari pertama PKKMB sempat diwarnai keluhan teknis oleh sejumlah Maba. Keluhan datang disebabkan oleh perubahan waktu kedatangan secara mendadak, di mana pada awal sosialisasi peserta diharuskan datang pada pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) kemudian diubah menjadi 05.30 WIB pada beberapa jam sebelum PKKMB berlangsung. Raja mengaku terkejut saat membaca pesan singkat dari panitia, beruntungnya, ia sudah bangun lebih awal dan bersiap-siap.
“Jadi awalnya tuh dikasih tahu sama panitia harus datang jam tujuh dan acaranya mulai jam delapan cuman tadi pas buka HP (handphone), untungnya udah bangun lagi sarapan, ada informasi mendadak katanya ke sini (kampus) tuh jam setengah enam,” keluhnya.
Senada dengan Raja, salah satu maba Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Tulip (disamarkan), merasa kecewa karena harus terburu-buru mengejar waktu yang dimajukan, tetapi saat sampai, rangkaian acara justru baru dimulai menjelang siang.
“Kita yang udah misalnya nge-setting alarm pas azan subuh, tiba-tiba kayak azan subuh tuh harus udah datang ke kampus. Enggak tahunya, giliran udah sampai kampus tuh baru masuknya siang,” ucapnya saat diwawancarai langsung, Senin (27/07/2026).
Perubahan mendadak yang menyebabkan kepanikan ribuan maba tersebut terjadi akibat perbedaan kebijakan antara pihak rektorat dengan panitia pelaksana. Salah satu Panitia PKKMB Unsika 2026, Fulanah (disamarkan), menjelaskan bahwa pihak rektorat merupakan aktor yang menginformasikan kedatangan Maba pada pukul 07.00 WIB. Namun, memajukan waktu kedatangan merupakan inisiatif dan keputusan panitia pelaksana demi mengantisipasi penumpukan peserta yang dapat mengganggu aktivitas warga sekitar di pagi hari.
“Nah, daripada memang menumpuk di depan (area kampus), kita ada inisiatif untuk mengkoordinasikan dulu Maba-nya biar masuk sedikit-sedikit ke dalam (kampus) biar tidak mengganggu lalu lintas warga,” jelasnya diwawancarai langsung, Senin (27/07/2026).
Merujuk turunannya Surat Edaran Nomor 4454/UN64/SE/2026 tentang PKKMB Unsika Tahun 2026 yang Aman, Inklusif, dan Bebas dari Kekerasan, PKKMB kali ini tidak hanya diwarnai dengan perubahan waktu kedatangan secara mendadak, tetapi juga dengan minimnya kehadiran serta peran Komisi Disiplin (Komdis) dalam menjaga ketertiban. Fulanah mengungkapkan bahwa fungsi Komdis kali ini dibatasi dan hanya sebatas mengarahkan barisan peserta area acara, tanpa otoritas lebih untuk mendisiplinkan dan memastikan Maba agar fokus mengikuti jalannya acara. Namun ironisnya, di tengah keterbatasan peran tersebut, panitia penegak kedisiplinan ini tetap mendapat teguran keras secara terbuka dari pihak rektorat.
“Jadi, benar-benar teman-teman dari Komdis kami dimarahin depan Maba sama pihak rektorat,” ungkapnya.

Potret area di luar Aula saat PKKMB Unsika berlangsung, Senin (27/07/2026).
2. Terbatasnya otoritas panitia pelaksana dalam merancang teknis PKKMB Unsika 2026
Selain diakibatkan oleh penyesuaian terhadap surat edaran, berbagai kendala teknis di lapangan disinyalir berasal dari minimnya ruang gerak panitia dalam merancang alur kegiatan. Fulanah membeberkan bahwa selama 3 bulan terakhir pihaknya telah menyusun berbagai konsep acara secara matang, tetapi pada akhirnya keputusan teknis usulannya ditolak secara sepihak kemudian diambil alih oleh pihak rektorat. Dengan begitu, menurut Fulanah pihaknya hanya dijadikan sebagai mesin penggerak yang menjalankan tugas lapangan rektorat.
“Sebenarnya ketimpangannya di situ sih. Karena ibaratnya kita hanya sebagai motornya mereka untuk melaksanakan konsep-konsep mereka,” bebernya.
Fulanah menambahkan, bahwa penyusunan agenda hari kedua juga sepenuhnya akan menggunakan keputusan sepihak rektorat tanpa melibatkan panitia pelaksana, termasuk dengan pembagian urutan serta alokasi waktu bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk tampil dan mengenalkan organisasinya.
“Untuk hari kedua pun kalau teman-teman tahu, itu kan sudah ada urutan UKM-UKM-nya seperti itu. Itu kita (panitia pelaksana) juga tidak dilibatkan untuk hal tersebut. Jadi, dari mereka mengusulkan untuk itu emang urutannya,” tambahnya
Tim redaksi LPM Resonan Unsika telah berupaya menghubungi pihak rektorat untuk meminta klarifikasi serta penjelasan terkait dinamika tersebut. Namun, setidaknya hingga berita ini diterbitkan, pihak rektorat belum memberikan tanggapan resmi.
Pada akhirnya, pelaksanaan hari pertama PKKMB Unsika 2026 menciptakan catatan tersendiri, tidak hanya untuk panitia pelaksana tetapi juga pihak rektorat. Fulanah berharap ke depannya pihak rektorat dapat memberikan lebih banyak kepercayaan serta ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk berkreasi. Menurutnya, kampus seharusnya memposisikan diri sebagai wadah yang dapat mendukung dan mengayomi gagasan-gagasan kreatif mahasiswa, bukan justru membatasinya.
“Kita kan mahasiswa sebenarnya memiliki banyak ide, yang maksudnya bisa loh pihak kampus ini menjadi naungan gitu untuk kita mencurahkan ide-ide yang kita punya,” harapnya.
Penulis: MOS, EI
Desainer: Chika Dwi Prasetya