Memajang kode QR dari lobi hingga setiap ruang kelas, Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) berniat mempermudah mahasiswa melaporkan keluhan fasilitas belajar. Tetapi, apakah operasional dari sistem ini benar-benar efektif?

 

Dekan Fasilkom, Omar Komarudin, menjelaskan bahwa sistem ini awalnya dirancang untuk mempermudah pelaporan kerusakan fasilitas.

 

“Targetnya adalah sebetulnya untuk mempermudah layanan ke mahasiswa. Dibuat QR code itu hanya untuk laporan kerusakan. Sehingga tata usaha ataupun administratif lainnya bisa segera mengetahui ada yang merah, gitu. Merah itu berarti baru dilaporkan ya. Sehingga kita bisa langsung tindak lanjuti,” jelasnya saat diwawancarai secara daring pada Senin, (31/8/2026).

 

Fungsi kode QR tersebut kini dipadukan dengan fitur pendukung informasi akademik mahasiswa, seperti integrasi jadwal perkuliahan di setiap ruangan.

 

“Fungsi kode QR ini kita kembangkan. Saat dipindai, sistem akan menampilkan jadwal penggunaan ruangan hari ini. Kalau jadwalnya kosong atau dosennya tidak hadir, ruangan bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa lain setelah dikonfirmasi,” tutur Oman.

 

Penggunaan indikator warna juga menjadi pembeda utama sistem ini. Oman menambahkan bahwa status kuning yang berkepanjangan menjadi perhatian khusus. 

 

"Ada yang kuning berkepanjangan, kuning menahun. Hari ini saya minta ke programer, kalau kuning maksimum dua minggu, setelah dua minggu harus merah lagi," tegasnya. 

 

QR code di samping lift Fasilkom, Senin (7/9/2026).

 

Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fasilkom turut menilai kinerja civitas dalam merespons keluhan mahasiswa yang masuk. Menurutnya sistem kode QR tersebut efektif digunakan karena laporan yang masuk langsung diketahui dan diproses dengan cepat. 

 

“Jadi itu nanti tiap peruangan tuh barcodenya beda, misalkan ada keluhan terkait fasilitas di kelas tersebut tuh langsung ketahuan itu di kelas mana dan langsung diperbaiki sih,” tuturnya saat diwawancarai langsung pada Jumat, (28/8/2026).

 

Mengenai sistem tersebut, Fauzan menyampaikan bahwa hal tersebut merupakan salah satu hasil dari audiensi pihak Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di Fasilkom.

 

Tapi itu mungkin salah satu hasil dari audiensi kita, kayak banyak kelas yang rusak dan lain-lain. Jadi mereka seharusnya membuat itu supaya langsung direct ke mereka, nggak langsung lewat ormawa,” lanjutnya. 

 

Namun, penerapan sistem tersebut belum sepenuhnya menjadi pilihan utama mahasiswa dalam menyampaikan keluhan. Salah satu mahasiswa Fasilkom, Dzaki, mengaku mengetahui keberadaan kode QR tersebut, tetapi belum pernah menggunakannya untuk menyampaikan laporan.

 

Gua pribadi sih nggak pernah ngisi sama sekali, scan juga cuma sekali karena mau ngecek aja bisa dipakai apa enggak,” ujarnya saat diwawancarai secara daring, Kamis (27/8/2026).

 

Menurutnya, keluhan fasilitas di lingkungan Fasilkom selama ini lebih sering disampaikan melalui Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) Fasilkom sebagai penampung aspirasi mahasiswa. Keluhan tersebut kemudian diteruskan kepada BEM Fasilkom untuk ditindaklanjuti kepada pihak fakultas.

 

“Kalau ada keluhan biasanya diajuin ke BLM Fasilkom sebagai penampung keluhan mahasiswa Fasilkom, abis itu diteruskan ke BEM sebagai eksekutor dan birokrasi ke pihak terkait fasilitasnya,” katanya.

 

Ia menilai mekanisme tersebut cukup membantu karena sejumlah laporan memang telah ditindaklanjuti. Keluhan seperti kerusakan pendingin ruangan (AC), proyektor, komputer, hingga kursi kelas disebut telah mendapat penanganan, meski belum seluruhnya terselesaikan.

 

“Untuk banyak kasus sih ditindaklanjuti. Contohnya kayak AC rusak, proyektor mati, PC rusak, kursi rusak. Tapi tetap aja ada sedikit yang mungkin nggak kesampeanKayak kursi yang rusak, ada beberapa yang diganti, tapi masih ada sedikit lagi yang rusak,” ujarnya.

 

Selain itu, salah satu mahasiswa Fasilkom lainnya, Aqilah, juga menilai tindak lanjut terhadap fasilitas yang rusak sudah dilakukan dalam beberapa kasus. Ia mencontohkan kerusakan kursi kelas yang menurutnya telah diperbaiki.

 

“Kemarin ada fasilitas kelas, kayak kursi yang udah rusak, itu udah dibenerin,” ujarnya saat diwawancarai secara daring, Kamis (27/8/2026).

 

Meski terlihat efektif, Dzaki berharap sistem pelaporan dapat memberikan akses yang lebih jelas kepada mahasiswa untuk mengetahui perkembangan laporan mereka.

 

Biar transparansi tindak lanjut laporan lebih jelas, mending ada sistem yang bisa diakses mahasiswa buat ngecek status laporan. Misalnya kayak dashboard atau notifikasi, jadi kalau ada yang ngeluhin AC rusak atau proyektor mati, mahasiswa bisa lihat sudah diterima, lagi diproses, atau sudah beres,” tuturnya.

 

(DKT, ZK)