Terjadi pemecahan pintu Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) oleh oknum yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya, Rabu (29/7/2026).
Salah satu mahasiswa Unsika, saksi saat kejadian berlangsung, S, mengatakan bahwa ia mendengar adanya pemecahan benda keras yang terjadi sekitar pukul dua pagi, akan tetapi ia mengaku tidak mengetahui pelaku pemecahan.
“Kejadian itu kebetulan mungkin di jam dua-an gitu loh. Nah, (saya) mendengar suara pecahan dan kebetulan (melihat) ada (pecahan) seperti itu. Untuk orangnya ini memang saya tidak tahu,” jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Kamis (30/7/2026).
Kesaksian yang sama disampaikan oleh mahasiswa yang berada tidak jauh dari tempat kejadian, G. Ia menjelaskan lebih lanjut kronologi yang terjadi dan mengakui bahwa ia tidak menaruh kecurigaan karena khawatir orang-orang yang dimaksud adalah mahasiswa penghuni sekretariat.
“Sebenarnya ada dua orang, satu motor. Satunya itu ngintai dulu, lihat-lihat, satunya lagi diam di motor. Jadi kayak ya kita enggak menaruh kecurigaan apa-apa karena takutnya memang orangnya lagi diam di sekre (sekretariat) aja gitu kan,” tuturnya saat diwawancarai secara langsung, Kamis (30/7/2026).

Dokumentasi pecahan pintu Sekretariat BEM Unsika, Rabu (29/7/2026).
Lebih lanjut, dari keterangan G yang mendengar langsung suara pecahan dari Sekretariat BEM Unsika menunjukkan sekaligus memperkuat fakta bahwa pemecahan ini terjadi berulang bahkan sampai tiga kali.
“Dari situ ya biasa aja gitu kan terus entah kenapa tiba-tiba ada kayak suara pecah, ada suara bantingan, terus selang sepuluh menit atau lima belas menit itu ada lagi. Nah, yang ketiga itu kayaknya selangnya lebih singkat dibanding yang pertama,” lanjutnya.
Adapun ciri pelaku yang G saksikan adalah perawakan seorang mahasiswa dengan arah kedatangan yang tidak teratur karena G beranggapan pelaku memutari kampus.
“Dari perawakan sih memang kayaknya mahasiswa. Karena ya masih muka-muka muda. (Kalau) kedatangannya random sih, dia muter kayaknya,” jelasnya.
Dalam pandangannya, S menyampaikan ketidaktahuannya mengetahui motif dari dasar pelaku melakukan tindakan tersebut dengan hasil akhir menyasar pada Sekretariat BEM Unsika. Akan tetapi, ia berasumsi bahwa tindakan tersebut menjadi titik geram dari pelaku pemecahan.
“Gua enggak tahu internal dari BEM Univ (Universitas) seperti apa gitu, di sini gua hanya memandang mungkin itu sudah di titik yang cukup geram,” katanya.
Namun, G memiliki pandangan berbeda dalam menanggapi perusakan fasilitas yang dilakukan oleh oknum yang belum diketahui tersebut. Ia secara tegas tidak membenarkan adanya perilaku tersebut dengan pertimbangan bahwa tidak ada jaminan kondisi aman dari ancaman tindakan semacam untuk pihak yang lainnya.
“Tindakan yang memang merusak fasilitas, yang pasti enggak dibenarkan ya, mau dengan ideologi ataupun dengan cara berpikir seperti apapun nyatanya enggak bisa dibenarkan. Kalau semisalnya memang kita mau menahan (pelaku) di sini, kita posisinya enggak tahu apa-apa, yang di mana someday somehow bisa aja dia tiba-tiba yang ngancurin ke sekretariat yang lain gitu kan,” lanjutnya.
G juga menghimbau dalam harapnya, apabila oknum melakukan hal tersebut dengan tujuan menyampaikan kekecewaan, seharusnya pihak bersangkutan bisa melakukan musyawarah dengan berdialog secara sistematis dengan pihak bersangkutan mengenai keluhan yang ingin disampaikan.
“Kalau misalnya dia bisa sanggup ketemu sama orang ini, kenapa harus hanya menghancurkan aja? Enggak tersampaikan gitu menurutku emosinya. Yang bisa kita lihat ya cuma orang marah, bukan orang kecewa,” harapnya.
(NSK, DST)