Pemadaman listrik bergilir yang melanda Kabupaten Karawang sejak pertengahan Juni 2026 berdampak pada aktivitas akademik mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), mulai dari pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS), praktikum, hingga pengerjaan tugas dan kegiatan organisasi mahasiswa.

 

Dikutip dari tvberita.co.id, pemadaman listrik bergilir ini semakin masif dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) di sejumlah wilayah Kabupaten Karawang dalam beberapa pekan terakhir. PT (Perseroan Terbatas) PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Karawang membenarkan kondisi tersebut. 

 

"Sehubungan dengan adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di beberapa lokasi," tulis PLN dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).

 

Lebih jauh, dilansir dari TempoDirektur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengungkapkan bahwa pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Pulau Jawa dipicu oleh gangguan teknis pada dua pembangkit listrik besar milik produsen listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP). 

 

"Kami juga menghadapi tantangan adanya kendala teknis di dua pembangkit besar di Pulau Jawa yang dimiliki dan dioperasikan oleh mitra kami," ujar Darmawan dalam konferensi pers pada Jumat (19/6/2026).

 

Akibatnya, dampak pemadaman ini dirasakan langsung oleh salah satu mahasiswi Teknik Mesin Unsika angkatan 2025, Pina. Ia menyebut pemadaman listrik sudah sampai pada tahap mengganggu kegiatan akademiknya terutama saat UAS berlangsung.

 

"Sebenarnya sih sudah di tahap yang mengganggu ya karena kan waktu yang pertama kali mengganggu itu pas UAS, waktu itu aku lagi ada UAS salah satu Matkul (Mata Kuliah) dan keadaannya tuh memang lagi mati lampu. Jadi kita ngerjain pun sambil gelap-gelapan dan lumayan gerah juga, gitu. Jadi ya enggak enak lah ngerjain UAS-nya," ungkapnya saat diwawancarai secara langsung, Senin (22/6/2026).

 

Selain itu, Pina menjelaskan dampak nyata yang ia rasakan adalah kegiatan praktikum yang seharusnya dilaksanakan pada Kamis lalu terpaksa dijadwalkan ulang ke hari Senin karena listrik padam sebelum praktikum dimulai. Bahkan pemadaman listrik juga menghambat pengerjaan tugas di tempat indekos akibat jaringan Wi-Fi yang tidak dapat digunakan. 

 

"Aku kemarin itu ada praktikum. Nah praktikum harusnya di hari Kamis kemarin itu udah yang terakhir malah harus di Senin, hari ini tuh aku masih harus praktikum karena pas kemarin mau mulai praktikum di Kamis malah mati lampu," ungkapnya. 

 

Pengalaman serupa dialami salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Unsika angkatan 2023, Fauzan. Ia mengatakan selama dua pekan pelaksanaan UAS terjadi empat hingga lima kali pemadaman listrik. Akibatnya, UAS praktikum yang semula dijadwalkan pada Rabu terpaksa diundur ke hari Kamis. Namun, pada hari pelaksanaannya listrik kembali padam. 

 

"Ada yang harusnya jadwal itu hari Rabu, tapi kita undur ke hari Kamis. Nah hari Kamis pas pelaksanaan pun mati lampu lagi. Di rentan waktu dua minggu kayaknya ada empat sampai lima kali itu kita mati lampu," ujarnya saat diwawancarai secara langsung, Selasa (23/6/2026).

 

Sebagian ujian kemudian dialihkan secara daring. Namun, gangguan sinyal akibat pemadaman listrik membuat pelaksanaannya tidak berjalan optimal.

 

"Kalau untuk pas pelaksanaannya online enggak aman karena jadi kayak pas kita ngomong ada yang enggak masuk lah segala macam gitu. Suaranya patah-patah sih karena gangguan sinyal banget," kata Fauzan.

 

Ia menambahkan, tugas pemrograman yang dikerjakan mahasiswa Fasilkom sangat bergantung pada koneksi internet secara stabil. Penggunaan hotspot pribadi pun tidak selalu menjadi solusi, akhirnya berdampak pada kemunduran pengumpulan tugas. 

 

"Jujur ngaruh banget, apalagi kita Fasilkom ya, kita kebanyakan tugasnya tuh ngoding dan itu butuh internet yang cepet. Kalau misalnya kita pakai kuota sendiri kita menghospot itu langsung wah jatuh banget lah kuotanya. Dan juga nggak semua provider itu kalau mati lampu ada sinyalnya tuh. Jadi kita mundur (mengumpulkan) tugasnya segala macem," ungkapnya.

 

Fauzan menambahkan, ia dan rekan-rekannya terpaksa mencari tempat yang masih memiliki akses listrik dan internet untuk mengerjakan tugas. Namun, pilihan itu justru menambah beban pengeluaran yang tidak direncanakan. 

 

"Jadi kita nyari tempat-tempat yang nyala tuhNah itu jadi ngebuat nambah pengeluaran sih. Karena kita kan di situ istilahnya mau numpang internet lah yaNah, terus jajan jadinya," jelasnya.

 

Kedua mahasiswa juga mengkritisi lambatnya penyampaian informasi terkait pemadaman listrik. Fauzan menilai informasi dari PLN Karawang sering kali diterima setelah pemadaman terjadi sehingga masyarakat tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan.

 

"Menurut saya sendiri, imbauan resmi dari PLN Karawang, agak telat aja sih. Jadi kita sebagai mahasiswa ya khususnya, yang terdampak juga, jadi nggak bisa mempersiapkan kemungkinan terburuk," ungkapnya.

 

Pina berharap tidak ada lagi pemadaman listrik mendadak yang mengganggu kegiatan akademik mahasiswa. Ia juga berharap pihak kampus dapat menyiapkan solusi alternatif agar aktivitas perkuliahan tetap berjalan ketika pemadaman terjadi.

 

"Harapan aku sih semoga ya enggak mati lampu lagi atau mungkin dari kampus ini ada solusi pakai apa gitu, genset mungkin atau gimana biar kedepannya aku enggak begini lagi, yang seharusnya aku tuh sudah tinggal bikin laporan doang aja masih harus pratikum lagi dan mepet banget gitu waktunya," harapnya.

 

Fauzan menambahkan, apabila pemadaman listrik tidak dapat dihindari, PLN perlu memberikan informasi yang lebih jelas mengenai jadwal dan wilayah terdampak agar masyarakat dapat melakukan antisipasi lebih awal.

 

“Mungkin himbauannya lebih jelas lagi gituKayak jadwalnya, terus bagian mana aja yang bakal duluan, terus sama penyebabnya. Jadi biar warga pun udah enggak banyak ngocehnya juga sih,” tuturnya. 

 

(WRN, YTZ)