Pelaksanaan hari pertama Pengembangan Karakter dan Kepribadian Mahasiswa (PKKM) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) diwarnai kendala koordinasi, khususnya di Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom). Sejumlah Mahasiswa Baru (Maba) Fasilkom sempat mengalami kebingungan terkait titik kumpul dan pembagian peserta, Senin (20/7/2026). Kondisi tersebut menyoroti koordinasi serta pembagian peran antara sivitas fakultas dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang dituntut untuk berpartisipasi langsung.
Jackson (nama disamarkan), Maba Fasilkom, mengatakan dirinya sempat mengalami kebingungan saat menentukan titik kumpul pada pagi hari. Ia juga membenarkan adanya Maba Fasilkom yang sempat tercampur dengan maba fakultas lain.
"Kalau itu sih (Maba Fasilkom tercampur dengan mahasiswa fakultas lain) kayaknya bener soalnya Fasilkom sama Fakultas Agama Islam (FAI) enggak ada dress code-nya, jadi baju bebas. Kalau fakultas lain tuh dia putih terus ada pita sama name tag-nya," ujar Jackson saat diwawancarai langsung pada Senin (20/7/2026).
Menurut Jackson, kondisi tersebut dapat ditangani oleh Kakak Pembimbing (Kabim) yang membantu mengarahkan peserta menuju lokasi. Ia menilai pelaksanaan kegiatan setelahnya berjalan dengan baik.
"Kakak-kakaknya aktif sih jadi beberapa ada yang udah siap di tempat, kita disuruh kumpul gitu. Jadi Maba-Maba juga bisa ke tempatnya aja terus dibantuin sama Kabim-nya ke aula buat tempat kumpulnya gitu," katanya.
Namun, Jackson menilai informasi mengenai pelaksanaan PKKM masih belum disampaikan secara maksimal. Ia mengatakan informasi yang diterima maba sebelumnya hanya berasal dari unggahan akun Instagram resmi Unsika. Sementara itu, perubahan jadwal pelaksanaan diketahui melalui Kabim.
"Nah, kita tahu dari Kabimnya, mereka mendadak ganti jadwal dari yang buat (tanggal) 22-23 jadi 20-21," ujarnya.
Senada dengan temuan tersebut, mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom), Fauzan, menilai hubungan komunikasi terkait pelaksanaan PKKM di tingkat fakultas masih belum berjalan optimal. Menurutnya, kurangnya koordinasi antar pihak menyebabkan ketidakjelasan pembagian tanggung jawab dalam penyampaian informasi kepada maba.
“Gua ngerasa komunikasinya (sivitas) masih kurang buat masalah PKKM ini, dari apa yang gua alamin jadinya malah lempar-lemparan tanggung jawab terkait pelaksanaan PKKM sampai akhirnya mahasiswa baru kebingungan karena enggak dapat informasi apa-apa dari pelaksanaan PKKM itu,” jelasnya saat diwawancarai langsung pada Senin (20/7/2026).

Postingan Instagram Fasilkom Unsika, Rabu (22/7/2026).
Rentetan kendala koordinasi yang terjadi pada hari pertama PKKM menjadi sorotan. Hal tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana kesiapan penyelenggara dalam memastikan informasi dan koordinasi berjalan dengan baik selama kegiatan PKKM berlangsung. Sebagai evaluasi, Fauzan ingin penyampaian informasi terkait pelaksanaan PKKM pada hari berikutnya dapat disampaikan dengan lebih jelas.
“Tapi untuk besok kita nekenin informasi terkait pelaksanaan, terus tata tertibnya seperti apa, pakaian yang akan digunakan Maba seperti apa. Sebenarnya gua enggak nuntut dia (Maba) harus pakai putih hitam kayak fakultas yang lain. Tapi setidaknya mereka punya identitas buat nandain bahwa mereka ini mahasiswa Fasilkom biar kita teman-teman Ormawa atau mahasiswa yang lain bisa ngebantu mobilitas mereka,” tambahnya.
Sementara itu, mahasiswa aktif Fasilkom yang terlibat sebagai co-fasilitator, M, mengungkapkan adanya kendala komunikasi sebelum pelaksanaan PKKM. Menurutnya, grup koordinasi co-fasilitator dengan sivitas baru dibuat sekitar lima hari sebelum pelaksanaan PKKM. Daripada teknis pelaksanaan PKKM, informasi yang M dapatkan justru hanya arahan untuk pembelian perlengkapan yang harus disiapkan co-fasilitator.
"H-5 tuh baru dibuat grup, grup kita (co-fasilitator). Terus tiba-tiba sivitas kayak ‘ini peralatan yang harus dibeli’," ujarnya saat diwawancarai secara langsung, Senin (20/7/2026).
Keterbatasan koordinasi tersebut membuat M harus mencari informasi secara mandiri menjelang pelaksanaan. Ia menilai koordinasi antara sivitas dan mahasiswa yang dilibatkan sebagai co-fasilitator perlu diperbaiki. Menurutnya, pembagian tugas yang lebih jelas sejak awal dapat membantu co-fasilitator untuk berfokus pada tugas teknis pendampingan mahasiswa baru.
"Kalau misalnya enak ya kayak komunikasinya misalnya dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) atau dari Hima (Himpunan Mahasiswa) bikin delegasi lagi buat kayak gini mungkin. Kan enak gitu, kita (co-fasilitator) cuman fokus di teknis dalamnya," ujarnya.
Meski terdapat kendala pada koordinasi di bagian luar kegiatan, ia mengatakan pelaksanaan teknis di dalam kegiatan tetap berjalan tanpa masalah. Ia juga menyebut belum menerima keluhan dari mahasiswa baru yang didampinginya selama kegiatan berlangsung.
"Enggak, paling masalah yang di luar ini aja," katanya.
Pelaksanaan hari pertama PKKM tetap berlangsung sesuai rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan. Namun, menurut M ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki, misalnya komunikasi antara sivitas dan Ormawa ataupun ke co-fasilitator.
“Evaluasi, paling itu sih komunikasi sivitas aja ke Ormawanya gitu atau ke kitanya (co-fasilitator). Soalnya emang benar-benar enggak ada komunikasi apa-apa enggak ada arahan apa-apa juga,” tuturnya.
(CCR, PNY, KKB)