Di tengah polemik yang terjadi sebelum Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), khususnya menyoal sivitas kampus melarang penjemputan Mahasiswa Baru (Maba) di luar kendali, pada hari kedua PKKMB Unsika terjadi bentrok yang melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultas yang memaksa menjemput maba dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang tengah mengadakan expo, Selasa (28/7/2026). 

 

1. Penjemputan Paksa Hilangkan Kesempatan Maba Kunjungi UKM

Ketua Adat UKM Mahasiswa Pecinta Alam Unsika (Mapalaska), Nusi, menjelaskan kronologi apa yang terjadi di hari kedua PKKMB. Menurutnya, seharusnya hari tersebut menjadi momen milik UKM, tetapi saat di lapangan terjadi bentrok karena BEM fakultas melakukan pengondisian terhadap maba per fakultas. Bahkan ia mengaku bersaksi bahwa Staf Wakil Rektor (Warek) Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama, Adhitya Rinaldi Irawan atau kerap dipanggil Aldi, sudah menginstruksi supaya maba melakukan kunjungan stand UKM. 

 

“Hari kedua PKKMB seharusnya itu menjadi momen milik UKM. Itu jadwal yang sudah disepakati bersama baik dari semua kalangan UKM ataupun sivitas akademika, pihak rektorat dan juga BEM serta BLM (Badan Legislasi Mahasiswa). Tapi nyatanya, di sore hari ketika penampilan semua UKM selesai dan ketika maba-maba ini dipersilakan keluar untuk melakukan kunjungan ke stand-stand UKM, saya dengar diinstruksikan oleh Pak Aldi juga untuk (maba) melakukan kunjungan stand sekaligus perpulangan. (Tetapi justru) berakhir dengan chaos yang mana BEM-BEM fakultas ini melakukan pengkondisian terhadap maba,” jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Rabu (29/7/2026).

 

Dokumentasi saat staf warek menginstruksikan maba segera pulang, Selasa (28/7/2026).

 

Lebih lanjut, Nusi juga menceritakan tindakan yang langsung ia lakukan ketika bentrok berlangsung. Nusi mengaku sudah menghubungi Aldi, kemudian menghampiri Presiden Mahasiswa (Presma) BEM Unsika, Beryl Geovanni Xenoglosi. Nusi berkata bahwa Beryl berada di dalam ruangan Aula Syekh Quro, tempat pelaksanaan PKKMB, dan Beryl mengaku merasa semuanya sudah berjalan seperti semestinya, yakni ada kunjungan ke Expo UKM terlebih dahulu. 

 

“Saya langsung nge-chat Pak Aldi gitu, ‘Pak, ini gimana ceritanya?’ gitu, tiba-tiba malah jadi berantakan, adanya pengkondisian juga. Terus juga saya sempat nyamperin tuh Presmanya, si Beryl, ke ruangan di dalam aula. Ternyata dia memang lagi standby lah di dalam, di ruangan ber-AC gitu. Saya tanyain lah, ini gimana ceritanya malah jadi berantakan gini? Kita Expo UKM malah terganggu. Dia malah mempertanyakan ‘Emang ada penyebutan secara paksa, gitu?’ Presma merasa kayak semua baik-baik aja gitu, semua berjalan sesuai sebagaimana mestinya, ada kunjungan expo dulu,” tuturnya. 

 

Nusi juga mengkritik komunikasi dan koordinasi BEM Unsika selalu berputar pada BEM fakultas sehingga membuat Nusi merasa UKM dikesampingkan. Padahal menurut Nusi, UKM juga perlu penyambung ke pihak rektorat. 

 

“Justru sebetulnya yang kami sayangkan, kurangnya koordinasi antara pihak BEM-U (BEM Unsika) ke kami selaku UKM. Jadi kami merasa kayak dikesampingkan ataupun dianaktirikan. Jadi BEM-BEM (BEM Unsika) ini lebih fokus ke BEM fakultas (untuk) menangani kasus dilarangnya penjemputan. Padahal kami juga membutuhkan penyambung dari BEM-U ke pihak rektorat,” kritiknya.

 

Akan tetapi, menurut keterangan Nusi, pihak dari BEM Unsika sudah meminta maaf kepada pihak-pihak yang dirugikan. Namun, Nusi tetap menyayangkan bahwa permintaan maaf ini lahir usai adanya penekanan.

 

“Permintaan maaf agak sedikit lama sih, karena ketika memang mereka mau minta maaf pun itu harus kita tekan dulu, harus kita teror dulu, harus kita kasar-kasarin dulu lah,” keluhnya.  

 

Selain itu, keluhan serupa dirasakan oleh anggota bidang Organisasi UKM Teater Gabung, Nazwa. Ia mengeluhkan dampak dari adanya penjemputan paksa adalah kurang maksimalnya pelaksanaan expo, hingga memaksa Nazwa harus menarik maba supaya UKM-nya dapat dikenal. 

 

“Kalau kerugiannya pasti ada karena kita jadi kurang buat menarik mereka (ke stand). Mau enggak mau kita harus nyelip di beberapa barisan terus kita harus narik-narikin mereka sampai maba-maba itu ketinggalan sama barisan mereka. Karena kalau kita enggak tarik, UKM kita mau gimana dikenal sama mereka gitu,” keluhnya saat diwawancarai secara langsung, Selasa (28/7/2026).

 

Jika Nazwa menyoroti upayanya agar maba dapat mengenal UKM-nya, Ketua Umum Unit Kegiatan Olahraga (UKO) Unsika, Fahd Maulana Malik Akbar, justru menitikberatkan pada nasib UKM yang hanya terekspos sebagian persen dari maba akibat penjemputan paksa maba yang berlangsung. 

 

“Tentu itu sangat berpengaruh ya bagi kami karena akhirnya tidak terekspos semua (UKM) kepada maba, kita hanya terekspos beberapa persen saja dari maba tersebut,” jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Selasa (28/7/2026).

 

Malam pasca PKKMB Unsika hari kedua, Nusi juga menjelaskan ada forum antar UKM dan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) dengan kesepakatan UKM mengajukan kesempatan untuk kunjungan ke setiap fakultas sebagai pengganti jatah satu jam yang telah dipotong BEM Fakultas. 

 

“Kemarin, kami ketua UKM menyepakati bahwasanya ingin memiliki kesempatan kunjungan ke setiap-tiap fakultas sebetulnya. Karena kan (BEM) fakultas yang merusak acara kami. Jadi, ya kami harap mereka bisa memberikan kami panggung selama 1 jam kurang lebih sama seperti mereka yang ambil jatah kami 1 jam yang expo itu,” jelasnya. 

 

2.Kesepakatan Antara BEM Fakultas yang Tidak Terealisasi

 

Ketua Umum BEM FKIP sekaligus salah seorang yang menarik mabanya untuk penjemputan ke fakultas, Surya, menanggapi fenomena di hari kedua PKKMB. Ia menyatakan selepas adanya surat edaran mengenai pelarangan penjemputan maba, masing-masing dari BEM Fakultas sebetulnya sudah sepakat untuk membuat sistem penjemputan maba per kloter demi menghargai agenda Expo UKM, akan tetapi pelaksanaanya skema yang sudah disepakati tidak terealisasi.

 

“Kita tuh dari BEM Fakultas udah bikin pakta integritas bahwasanya kita itu respect ke expo dulu. Nah, jadi awal tuh sistemnya (penjemputan) per kloter. Jadi pertama itu adalah FH (Fakultas Hukum), FT (Fakultas Teknik), Fikes (Fakultas Ilmu Kesehatan), FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), FKIP, Faperta (Fakultas Pertanian), FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Fasilkom (Fakultas Ilmu Komputer), FAI (Fakultas Agama Islam). Nah, ketika di pelaksanaan kok malah semua fakultas narik-narikin (disaat yang bersamaan). Kenapa skema yang jauh-jauh hari kita bahas malah tidak terealisasi?” Jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Rabu (29/7/2026).

 

Hal ini telah divalidasi oleh ketua umum BEM Fikes, Amar, merasa memang sudah ada kesepakatan, akan tetapi yang membuat Fikes tidak berkunjung ke expo adalah karena ada mobil ambulans menghalangi jalan. 

 

“Sebenarnya dari awal tuh udah ada kesepakatan. Kemarin tuh terjadi chaos mungkin dari Fikes sendiri ya kendalanya ada ambulans di tengah jalan lah ya. Jadi, kita pun agak sulit untuk exponya juga gitu loh,” jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Jumat (31/7/2026).

 

Lebih lanjut, Surya menjelaskan sekitar pukul 15.30 WIB di grup WhatsApp forum ketua BEM memang sudah ada informasi instruksi pengondisian oleh pihak rektorat, akhirnya instruksi ini memicu keberangkatan lebih awal BEM fakultas untuk menjemput mabanya.

 

“Ketika jam menunjukkan di jam setengah empat itu ada grup forum ketua BEM itu sudah ada instruksi bahwasanya ini udah mulai adanya pengkondisian gitu loh dari pihak rektorat dan sebagainya. Alhasil kami pun ke trigger gitu loh. Jadi mulai lah kita berangkat. Pas kita berangkat, nah di situ tuh udah mulai crowded,” lanjutnya. 

 

Menanggapi kerugian waktu Expo UKM yang dipotong untuk penjemputan maba, Surya mengaku sudah berupaya untuk membuat urutan penjemputan maba FKIP berada pada urutan akhir supaya setidaknya maba FKIP dapat berkunjung kepada UKM-UKM.

 

“Saya kurang tahu berapa banyak UKM yang memang ketika adanya penumpukan di FKIP itu mengajak ngobrol dan sebagainya. Setidaknya kami sudah ikut memberikan sumbangsi walaupun (tetap) tidak benar gitu karena salah kami menjemput mahasiswanya,” jelasnya. 

 

Surya memaklumi terkait kondisi yang tidak terkendali sehingga Panitia Pelaksana (Panpel) PKKMB Unsika kebingungan dalam merespons cepat fenomena yang terjadi, tetapi bagaimanapun Surya tetap merasa ini seharusnya atas tanggung jawab panpel.

 

“Saya rasa di sini masih ada wewenang dari panpel univ (universitas) gitu loh. Karena panpel univ masih memiliki Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) ketika selesai dari rangkaian acara itu kan diarahkan untuk ke expo. Sedangkan ketika pelaksanaan itu mungkin ini saya tidak menyalahkan sepenuhnya karena ya (mungkin) human error. Dari panpel univnya itu sedikit kebingungan karena mereka pun ngelihatnya banyak banget yang masuk gitu loh. Kami dari fakultas pun enggak ada arahan tongkat komando yang jelas gitu. Alhasil, kami bergerak sendiri sesuai dengan ya egonya masing-masing,” bebernya.

 

Dokumentasi kekacauan menjelang penjemputan maba, Selasa (28/7/2025). 

 

Menanggapi surat edaran yang akhirnya ditabrak oleh tiap-tiap BEM Fakultas, Surya sendiri di dalam internal fakultasnya sudah siap menanggung resiko dan bertanggung jawab atas tindakannya. Meski mendengar beberapa fakultas lain ada pembatasan terkait penjemputan maba bahkan dengan ancaman pemberian Surat Peringatan (SP) ataupun ormawanya dibekukan, menurut pengakuan Surya, tidak ada sanksi yang ia dapatkan atas kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya dengan pihak sivitas fakultas. 

 

Gua sampaikan, ‘Bapak, ini saya menerima resiko dan ini saya menanggung resiko apapun dengan tujuh ketua yang memang sekarang lagi ada di Ormawa FKIP,’ nah, kalau dari internal FKIP seperti itu. Mungkin sedikit yang gua tahu dari beberapa fakultas lain pun ada yang disuruh jangan adanya arak-arakan (penjemputan maba) dan sebagainya sampai adanya narasi kalau misalnya tetap dilaksanakan di SP atau dibekukan. Jadi kalau dari gua pribadi buat adanya punishment atau bentuk sanksi dan sebagainya itu tidak ada,” tuturnya. 

 

Berbeda dengan FKIP, Amar menjelaskan bahwa di Fikes, pihak sivitas fakultasnya memang sudah menentang, tetapi Amar dan BEM Fikes sudah sepakat untuk menabrak tentangan tersebut. Sayangnya ketika mendengar BEM Fikes mengadakan penjemputan, pihak sivitas fakultas segera mendatangi kampus 1 dan membubarkan massa sehingga seusai penjemputan tidak ada euforia. 

 

“Sebenarnya dari dekanat pun udah make sure ya bahwa (ada) larangan penjemputan. Namun, kita (BEM Fikes) tabrak (larangan tersebut), tanpa ada konfirmasi saya ke pihak fakultas. Namun, akhirnya dari fakultas pun mendengar kita mengadakan penjemputan di fakultas, pihak fakultas pun dan pimpinan beralih lah dari kampus 2 ke kampus 1 untuk mengamankan kita dan membubarkan massa. Jadi tidak adanya euforia setelah penjemputan tersebut,” jelasnya. 

 

Dari segala dinamika yang terjadi, Surya meminta maaf kepada pihak UKM yang seharusnya mendapatkan eksposur di Expo UKM justru gagal karena ego dari masing-masing fakultas. 

 

Gua mengucapkan permohonan maaf untuk para UKM yang seharusnya kalian mendapat eksposur di Expo UKM. Namun kenyataannya dari setiap ormawa itu memiliki egonya masing-masing untuk menarik setiap mahasiswanya,” katanya.

 

Amar juga turut mengucapkan permintaan maafnya kepada UKM karena penjemputan maba yang dilaksanakan atas kehendaknya, akan tetapi Amar akan menjadikan ini sebagai pembelajaran untuk bisa menyelesaikan konsep yang sudah dibangun sebelumnya. 

 

“Saya jujur meminta maaf juga kepada UKM-UKM yang emang udah kepotong (exponya) pada saat penjemputan. Saya pun menyadari bahwa penjemputan itu udah chaos banget lah. Mungkin itu jadi pembelajaran juga bagi kita (BEM Fikes) bahwasanya kalau misalkan udah ada konsep dari awal harusnya bisa menyelesaikan,” tuturnya. 

 

Penulis: ALA, ZFH

Desainer: Chika Dwi Prasetya