Memasuki masa perkuliahan, istilah mahasiswa sebagai agent of change jadi tak asing di telinga. Di tambah lagi, satu tahun rezim Prabowo-Gibran, Indonesia diwarnai sederet aksi unjuk rasa dari elemen masyarakat, khususnya mahasiswa. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Viqki Fahrezi, menyampaikan bahwa mahasiswa memang agent of change dan agent of solution dengan demonstrasi sebagai pintu dari solusi. 

 

“Mahasiswa kan sebagai agen of change. Selain jadi agent of change, kita sebagai mahasiswa itu harus menjadi agent of solutionNah, salah satu pintunya yaitu melalui demonstrasi itu,” tuturnya saat diwawancarai secara langsung, Selasa (23/6/2026).

 

1. Demonstrasi untuk Tanggalkan Kewajiban Sosial

 

Per hari ini, elemen mahasiswa masih masif melakukan aksi demonstrasi, baik tingkat daerah maupun nasional. Akan tetapi, apakah aksi yang berulang menunjukkan konsistensi gerakan atau justru menandakan bahwa aksi yang dilakukan mahasiswa hanya untuk menanggalkan kewajiban sosial? 

 

Salah satu bagian dari Perpustakaan Jalanan Karawang, Mou, mengungkapkan bahwa menurutnya di setiap aksi terendus beban moral mahasiswa sebagai agen perubahan yang membuat mereka bergerak sebatas untuk menanggalkan kewajiban sosial.

 

 “Terendus beban moral yang dibawa mahasiswa di setiap aksinya. Seolah-olah alasan mereka turun bergerak itu sebatas untuk menanggalkan kewajiban sosialnya sebagai lanjutan dari mistifikasi yang berkembang perihal merekalah agen pengubah yang ideal di mata masyarakat,” jelasnya saat diwawancarai melalui Whatsapp, Kamis (25/6/2026).

 

Melalui anggapan aksi untuk menanggalkan kewajiban sosial, Mou menambahkan, hal ini akan berdampak pada kepuasan instan setelah mengadakan aksi sehingga tidak ada usaha lanjutan untuk merawat gerakan ataupun memantik kesadaran. 

 

“Dampaknya adalah kepuasan instan yang mahasiswa rasakan setiap kali selesai turun aksi untuk menyuarakan tuntutan. Selebihnya, tak ada usaha lanjutan untuk mengawal tuntutan, merawat gerakan, atau memanjangkan umur inisiasi yang dapat memantik kesadaran,” lanjutnya. 

 

Senada dengan Mou, Wakil Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsika, Ikhsan Maulana, turut mengkritik gerakan mahasiswa per hari ini yang masih terlihat reaksioner dan hanya melihat momentum.

 

Otokritiknya itu gerakan mahasiswa hari ini terlalu reaksioner, terlalu melihat momentum,” tambahnya saat diwawancarai secara langsung, Senin (22/6/2026). 

 

Ikhsan juga menyoroti pergerakan mahasiswa agar tidak langsung padam dengan mengagendakan rawatan harian untuk isu-isu tertentu. 

 

“Bagaimana hari ini kita bisa membangun gerakan yang setelah melakukan aksi-aksi besar itu tidak langsung padam dan tidak redup gitutapi ada rawatan-rawatan agenda harian di organisasi yang memang difokuskan untuk isu-isu tertentu,” ujarnya.

 

2. Heroisme dalam Pergerakan 

 

Menyoal gerakan mahasiswa bukan hanya kumpul, menyuarakan aspirasi dan poin tuntutan, setiap massa aksi akan selalu hadir tokoh dengan sifat yang dominan untuk memantik pergerakan. Sayangnya, tokoh-tokoh ini berakhir melekat dengan momok herois. Menurut Mou, gerakan mahasiswa memang rentan menghadirkan sosok herois dengan daya tawar politik yang menjanjikan. 

 

“Gerakan memang rawan menghadirkan sosok herois belaka, karena semakin terlihat dan tampilnya seseorang, semakin luas pula koneksi politik yang ia dapat,” ucapnya.

 

Ikhsan menyebutkan beberapa faktor yang memungkinkan hadirnya sosok heroik dalam gerakan. Mulai dari buku bacaan, sampai doktrin agent of change dan kontrol sosial.

 

“Sebenarnya, karena pertama faktor mungkin bacaan, kedua faktor doktrin bahwasanya kita ada agent of change dan social control,” tuturnya.

 

Selain itu, Mou menambahkan, sebetulnya sosok heroisme ini hadir akibat gerakan yang stagnan, sehingga muncul etos individual yang merasa menanggung sendiri beban transformasi sosial dan progresivitas. 

 

“Resiko dari stagnasi sebuah lingkar gerakan mau tak mau adalah munculnya etos individual yang merasa menanggung sendiri beban transformasi sosial dan progresivitas. Subjek ini akhirnya bergerak sendiri dalam rangka kepeloporan seiring lambatnya kolektif atau gerakan dalam merespons wacana sosial,” jelasnya. 

 

Untuk itu, Mou merasa perlu ada evaluasi dalam pergerakan agar tidak memunculkan sosok herois yang merugikan dan tidak representatif.

 

“Akhirnya kita perlu mencerna ulang sarana evaluatif dari simpul gerakan agar tak hanya memunculkan sosok-sosok herois yang merugikan dan tak representatif apalagi fungsional untuk gerakan.”

 

3. Bagaimana Gerakan yang Ideal?

 

Ketika mahasiswa sibuk mempertimbangkan gerakan yang masif dan sistematis, menurut Ikhsan justru sebelum melakukan aksi, perlu dibangun dasar pola pikir dan nilai-nilai intelektual sehingga gerakan aksi dapat lebih terukur serta terarah.

 

“Dibangun dulu dari dasar dan nilai-nilai nilai intelektualnya, jadi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa itu terukur dan terarah, enggak secara membabi buta melakukan kerusakan dan sebagainya. Karena output dari gerakan mahasiswa itu kan agar dikabulkan gitu,” ucapnya.

 

Mou menambahkan, untuk membuat gerakan yang membuahkan hasil, mahasiswa perlu mulai bekerja sama dengan rakyat dan menyadarkan politik terhadap individu di luar gerakan. 

 

“Mereka perlu turun dan mulai bekerja sama dengan rakyat. Membantu juga penyadaran politik terhadap individu-individu di luar gerakan yang bisa mereka temui dalam banyak komunitas, forum, koalisi, dan bentuk gabungan gerakan lainnya,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, bahkan Mou menyarankan agar mahasiswa dapat menjangkau bantuan dari luar kolektif seperti anggota muda partai dan Organisasi Masyarakat (Ormas) agama yang merupakan pendukung sistem kapitalistik.

 

“Intinya mereka yang berpeluang besar jadi pengawal dan pendukung sistem kapitalistik yang rezim terapkan. Kalau kita bisa mempengaruhi satu dua bahkan lebih kawan di sana, aku pikir sejumlah upaya bisa dilakukan,” lanjutnya. 

 

Ikhsan berharap agar gerakan mahasiswa dapat melebur dengan elemen lain supaya tidak egosentris. 

 

“Lebih baik evaluasi untuk gerakan mahasiswa agar bisa melebur lagi aja bersama masyarakat dan bersama elemen-elemen lain. Agar mahasiswa tidak terlalu egosentris, hanya berdiam diri di menara gadingnya gitu,” harapnya. 

 

(NSK, MLN)