Aku baca berita ini sambil geleng-geleng kepala. Bupati Purwakarta, Om Zein, sedang di panggung Hajat Bumi, bicara soal betapa pentingnya menjaga bahasa Sunda. Entah ya apakah warga yang mendengarkan ikut bangga. Tetapi tidak lama setelah itu, lagu ciptaannya sendiri justru viral karena isinya meledek pengalaman tubuh perempuan. Judulnya saja sudah agak aneh, "Lalaki Langit, Lalanang Bejad".
Lagunya sebenarnya sudah lama, dibuat tahun 2020, sebelum dia menjabat bupati. Baru diunggah ulang Januari 2026 ke media sosial pribadinya. Awalnya adem-adem saja, sampai potongan liriknya menyebar dan dikaitkan dengan pidatonya soal bahasa Sunda tadi. Dari situ mulai satu per satu bersuara. Ada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ikut komentar, musisi, akademisi, sampai lembaga bantuan hukum yang somasi karena menganggap liriknya merendahkan perempuan.
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akhirnya turun tangan. Om Zein diperiksa sekitar delapan jam, ditanya macam-macam soal alasan dia menciptakan lagu itu. Ujung-ujungnya videonya dihapus dan dia minta maaf secara terbuka. Katanya itu cuma curahan hati soal masa mudanya yang dia anggap dulu ‘nakal.’ Segitu saja kronologinya, tetapi hal yang bikin aku penasaran justru bukan urutan kejadiannya, namun kenapa satu lagu bisa bikin seheboh ini.
Coba dengarkan liriknya. Dia bersyukur terlahir sebagai laki-laki dan rasa syukur itu dijelaskan lewat perbandingan dengan hal-hal yang dialami perempuan. Contohnya seperti menstruasi, keguguran, pakai bra, dandan, semua disebut satu-satu seperti daftar belanjaan dengan nada seolah untung dia tidak mengalami semua itu. Sekilas mungkin kedengarannya cuma bercanda receh. Tetapi pengalaman-pengalaman itu bukan sesuatu yang dipilih sendiri oleh perempuan, itu hal alami dalam tubuh mereka, lah kok malah dijadikan bahan tertawaan oleh orang yang bahkan tidak pernah merasakannya.
Anaknya sendiri perempuan. Suatu saat nanti dia juga akan mengalami hal-hal yang dijadikan bapaknya bahan lagu itu. Sekarang coba bayangkan kalau lagu ini ditulis oleh orang biasa, teman sekelas misalnya, lalu diunggah ke Instagram pribadinya. Paling mentok-mentok jadi bahan omongan di grup WhatsApp saja, tetapi ini kan bupati. Kata-kata dari pejabat itu beda bobotnya karena posisinya otomatis membawa nama institusi yang dia pimpin, suka tidak suka.
Dan ini yang bikin aku makin geram kalau dipikir lebih jauh. Pemerintah daerah itu justru punya tanggung jawab langsung menangani kekerasan berbasis gender. Coba lihat datanya, Januari sampai September 2024 saja tercatat 122 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Purwakarta, sebagian besar kekerasan seksual. Jadi wilayah yang dia pimpin ini bukan tempat yang aman-aman saja dari persoalan semacam itu. Justru disituasi seperti itu seorang pemimpin daerah semestinya paling hati-hati kalau bicara soal tubuh dan pengalaman perempuan. Bukan malah dijadikan lagu, lalu disebar ke ruang publik seolah itu hal yang lucu untuk dibagikan. Ada yang bilang ini bagian dari melestarikan bahasa daerah. Aku tidak setuju dengan argumen ini.
Beberapa minggu lagi mungkin orang sudah lupa dengan kasus ini. Akan ada isu baru yang lebih ramai dan lagu ini tinggal jadi cerita lama. Tetapi untuk aku pribadi, ini bukan sekadar viral sesaat. Ini cerminan kecil betapa mudahnya kita, termasuk pemimpin kita sendiri, menganggap wajar candaan yang sebenarnya berakar dari ketimpangan yang sudah lama dirasakan perempuan. Minta maaf dan menghapus lagu itu memang perlu, tetapi itu langkah bare minimum yang bisa dilakukan. Hal yang jauh lebih penting adalah kesadaran bahwa budaya tidak pernah boleh dijadikan tameng untuk membenarkan sikap yang merendahkan orang lain.
Aku cuma berharap, lain kali kalau ada pemimpin yang mau bicara soal bangga berbudaya, dia juga ingat bahwa panggung sebesar itu harusnya dipakai untuk merayakan identitas bersama. Bukan diam-diam berubah jadi tempat yang membuat penghinaan terhadap separuh masyarakat yang dia pimpin sendiri kelihatan wajar-wajar saja.
Penulis: Saber Roam
Desainer: Azizah Marzha