Pernah merasa kebingungan saat akan menulis sebuah judul? Misalnya judul buku, lagu, artikel, dan judul lainnya? Apakah harus dicetak miring atau diapit dengan tanda petik? Penulisan judul mungkin memang terlihat sepele, namun terdapat aturan yang perlu diperhatikan. Aturan yang saat ini berlaku merujuk pada Ejaan yang Disempurnakan (EYD) Edisi V (Kelima). Berikut penjelasan penggunaan huruf miring dan tanda petik pada judul yang harus kamu ketahui!

 

1. Judul Buku, Novel, dan Film

Berpedoman pada EYD Edisi V, huruf miring (atau yang sering dikenal dengan italic) digunakan untuk menuliskan judul buku, judul film, judul album lagu, judul acara televisi, judul siniar, dan judul lakon. Hal ini juga berlaku untuk nama media massa yang dikutip dalam tulisan.

Contohnya:

Buku yang sedang ramai dibahas itu berjudul Entrok karya Okky Madasari.

Berita tersebut beberapa kali muncul di media Kompas.

Film Laut Bercerita akan tayang di bioskop pada bulan Oktober.

 

2. Judul Lagu

Siapa yang masih mengira kalau tanda petik hanya digunakan untuk menyatakan kalimat langsung? Lebih dari itu, tanda petik juga dapat digunakan untuk mengapit judul lagu, judul naskah, judul bab buku, judul pidato atau khotbah  yang terletak di dalam kalimat.

Contohnya:

Lagu “Jatuh Suka” milik Tulus menjadi salah satu lagu yang banyak didengarkan oleh mahasiswa.

 

3. Judul Cerpen dan Puisi

Jika judul buku dan novel menggunakan huruf miring, bagaimana dengan judul cerpen dan puisi? Berbeda dari karya sastra novel, penulisan judul cerpen dan puisi menggunakan tanda petik. Hal ini juga tetap berlaku saat judul cerpen atau puisi dimuat dalam sebuah buku atau kumpulan karya.

Contohnya:

“Sajak Joki Tobing untuk Widuri” merupakan salah satu puisi terkenal penyair W.S. Rendra.

Terdapat 23 judul cerpen pada buku Manifesto Flora karya Cyntha Hariadi, salah satunya berjudul “Melankolia.”

 

4. Judul Tema dan Subtema

Penulisan judul tema atau subtema seringkali membuat penulis merasa bingung. Apalagi, judul tema sering dijumpai pada berbagai konteks. Pada EYD Edisi V, penulisan judul tema atau subtema diapit oleh tanda petik.

Contohnya:

Pemerintah menetapkan “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” sebagai tema 17 Agustus 2026.

 

5. Judul Artikel dan Nama Jurnal

Persoalan penulisan judul artikel dan nama jurnal menjadi kebingungan yang sering dihadapi mahasiswa. Ternyata, keduanya memiliki perlakuan yang berbeda. Judul artikel diapit dengan tanda petik, sedangkan nama jurnal ditulis dengan huruf miring.

Contohnya:

Artikel “Perilaku Konsumen dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Olahan Tutut di UMKM Saung Tutut Tegalsawah Kabupaten Karawang” diterbitkan dalam Jurnal Agrimanex.

 

Aturan penulisan judul yang ditulis dengan huruf miring maupun tanda petik tersebut berguna untuk memberitahu kalimat yang terkadang masih terasa awam bagi pembaca. Misalnya pada kalimat “Saya suka menonton Sore: Istri dari Masa Depan,” percakapan tersebut mengacu pada judul film. Pembaca yang masih asing mungkin tidak akan menyadari bahwa kata ‘Sore’ pada percakapan tersebut mengacu pada judul film. Maka hadirnya aturan penulisan judul juga menjelaskan aturan penulisan judul yang harus ditulis miring ataupun diapit dengan tanda petik agar membuat tulisan menjadi lebih rapi dan profesional.

 

Namun perlu digarisbawahi, jika kamu sedang mengerjakan skripsi atau artikel jurnal, pedoman aturan umum bahasa Indonesia tidak bisa dijadikan sebagai acuan utama. Pedoman penulisan kampus atau template jurnal tetap harus menjadi acuan utama sebab setiap lembaga terkadang memiliki pedomannya masing-masing, begitupun dengan jenis daftar pustaka yang akan kamu gunakan. Jadi, sebelum menulis, jangan lupa cek kembali ketentuan yang telah ditetapkan, ya!

 

Penulis: Redaktur Bahasa

Desainer: Azizah Marzha