Sumber: Spotify.com

 

Judul Lagu: “Jefferson”

Band: FSTVLST

Penulis Lagu: Farid Stevy Asta, Roby Setiawan, Hutama Mahdi Putra

Produser: Roby Setiawan, Iga Massardi

Label Rekaman: Independen

Genre: Rock Alternatif, Indie Rock

Tahun Rilis: 3 April 2026

Durasi Lagu: 4:37

Album: Paradoks Diametral 

 

 

Pendahuluan 

Pada 1 Mei lalu, band rock asal Yogyakarta, FSTVLST, merilis album terbarunya yang berjudul Paradoks DiametralBand ini dikenal memiliki ciri khas melalui lirik-lirik yang puitis dan sarat makna. Dalam setiap karyanya, FSTVLST kerap menyampaikan kritik terhadap isu-isu sosial dan lingkungan, hingga refleksi mengenai kehidupan serta pengalaman pribadi. Dari kedalaman maknanya, lagu-lagu FSTVLST cukup banyak mendapatkan perhatian dari pendengarnya. Beberapa karya yang cukup dikenal, seperti “Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan”“Jefferson”“Rock Jelek”“Orang-orang di Kerumunan”, dan berbagai lagu lainnya.

 

Album ketiga FSTVLST ini berisi 12 lagu, salah satunya berjudul “Jefferson”. Lagu tersebut telah lebih dulu dirilis pada 3 April, sekitar satu bulan sebelum album Paradoks Diametral resmi diluncurkan. “Jefferson” menjadi salah satu lagu yang menarik untuk dibahas karena lirik-liriknya memuat kritik sosial yang kuat. Selain itu, setiap penggalan liriknya mengajak pendengar untuk kembali mengingat salah satu peristiwa kelam dalam sejarah negara ini, yaitu tragedi yang terjadi pada tahun 1965.

 

 

Interpretasi Lagu

 

1. Kritik Sosial Mahasiswa 

Dari penggalan lirik pertama berbunyi, “Semalam suntuk berdialektik, terdengar hebat, tumpak mudah berwacana, Adu teori orgy diksi miskin arti,” menggambarkan pada sekelompok orang yang sedang berdiskusi dan bertukar teori. Penggalan ini seolah-olah seperti mengkritik kelompok-kelompok yang hanya banyak berbicara, diskusi, mengkritik, dan berwacana, di setiap malamnya, namun pada kenyataannya tidak ada implementasi atau aksi nyata, sehingga yang mereka bahas hingga berlarut-larut semacam tiada artinya. Seperti sekelompok mahasiswa yang sedang membahas kegagalan pemerintah dalam menjalankan fungsinya.

 

Mahasiswa yang aktif dalam berdialektik ini dapat dibagi menjadi tiga kemungkinan. Pertama, mahasiswa yang banyak bicara, berargumen dan berdialektika di dalam perkumpulan atau forum, namun perilakunya tidak memberikan contoh yang sesuai dengan perkataannya. Kedua, mahasiswa yang tidak terlalu banyak berargumen, tetapi dia lebih mengedepankan aksi nyatanya dibandingkan terlalu banyak bicara. Ketiga, mahasiswa yang aktif dalam berbicara dan memberikan aksi nyata pada perkataan-perkataannya. 

 

Contohnya, ketika sekelompok mahasiswa membahas sebuah kasus dalam sistem pemerintahan atau kebijakan merugikan rakyat, teori-teori yang muncul dari benak mereka lalu dilontarkan dengan narasi-narasi yang terlihat begitu hebat. Semestinya, di dalam rumpun diskusi itu mereka peduli terhadap sosial, namun kenyataannya mereka hanya ingin terlihat heroik dan narsis. Kepedulian mereka hanya sebatas di dalam ruang-ruang diskusi, dalam kenyataannya mereka hanya berdiam diri tidak ada aksi nyata. Label mahasiswa jadi hanya sebatas memenuhi syarat untuk mendapatkan nilai akademik dan mencapai gelar sarjana.

 

Selain itu, penggalan lirik di akhir lagu, “Hidup yang berarti, bukan sekadar tak mati, mati yang berarti, mesti yang terakhir kali,” memberikan motivasi kepada para pendengar ketika hidup hanya sekadar menjalankan rutinitas yang itu-itu saja, seperti makan, mengerjakan tugas kuliah, atau rutinitas Program Kerja (Proker) yang menjadi siklus berulang setiap tahunnya. Lirik tersebut menyadarkan kita bahwa hidup yang berarti adalah hidup yang memberikan aksi nyata untuk masyarakat luas, bukan hanya racauan tanpa arti.

 

2. Merawat Ingat Tragedi 65

Lagu ini tidak hanya kritik soal sosial mahasiswa yang saya interpretasikan di atas. Di pertengahan lagu ini, ada penggalan lirik yang mengajak kita untuk merawat ingatan pada tragedi 1965. “Ku dari utara merawat ingatan, ke selatan lintasi jefferson, benteng Belanda dan penjara di taman,” Jefferson merupakan nama salah satu gedung di Yogyakarta yang begitu membekas di ingatan masyarakat setempat. 

 

Gedung Jefferson ini didirikan saat kepemimpinan masa Soekarno, awalnya diperuntukkan Perpustakaan Kongres Amerika Serikat guna mengenalkan budaya, ilmu, dan pemahaman Amerika Serikat pada saat itu. Namun, karena kondisi politik di Indonesia sedang memanas pada tahun 1965, gedung ini beralih fungsi menjadi rumah tahanan dan interogasi, atau lebih tepatnya gedung penyiksaan.

 

Masyarakat yang saat itu menjadi simpatisan, kerabat, pernah bersinggungan, anggota, ataupun dianggap terafiliasi Partai Komunis Indonesia (PKI) dijebloskan ke ruang-ruang di Gedung Jefferson. Korban dipukuli, diperkosa, jarinya dijepit, untuk mengakui sejauh mana keterlibatannya dengan PKI oleh pihak aparat, bahkan sampai ada yang dibunuh, sungguh miris. 

 

Penggalan lirik ini mengajak kita untuk merawat ingat pada tragedi tahun yang kelam itu. Para korban pada saat itu tidak mendapatkan keadilan dan tidak adanya penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Sayangnya, masih banyak kejadian-kejadian serupa di berbagai  daerah Indonesia, seperti di Habalan, Pulau Buru, dan daerah lainnya. Kejadian pada tahun 1965 menjadi bukti bahwa negara yang berbasis kekuasaan militer sangat kuat dan dipimpin oleh Soeharto. Di tahun itu meruntuhkan kekuasaan Soekarno melalui propaganda anti-komunis.

 

Kelebihan 

Lagu ini memiliki aransemen yang menarik untuk dibahas, karena di album Paradoks Diametral FSTVLST memiliki wajah baru dibandingkan dengan album-album sebelumnya. Jika sebelumnya mereka menyajikan lagu secara agresif dan meledak-ledak, album ini mereka sajikan dengan lagu yang lebih berwarna.

 

Lagu “Jefferson” dibawakan dengan gaya melancholy disco yang menarik. Melancholy disco ini merupakan gaya lagu atau album yang aransemennya lebih ke disko atau elektronik ceria, distorsi, dan berisik lalu dipadukan dengan lirik-lirik puitis serta sedih. Ini merupakan gebrakan terbaru untuk band-band di Indonesia membawakan genre melancholy disco. Meski begitu, musiknya masih bisa menyesuaikan dengan pasar industri musik di Indonesia. 

 

Lirik-lirik lagu “Jefferson” ini juga mengajak dan memotivasi hidup pendengar melalui liriknya sekaligus membuat kita merawat ingatan pada sejarah kelam yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965.

 

Kekurangan

Kekurangan pada lagu-lagu di album Paradoks Diametral, khususnya di “Jefferson”, dengan aransemen bergaya barunya yang membuat FSTVLST seperti kehilangan wajah aslinya. Di album-album sebelumnya mereka menampilkan wajah sebagai band bergenre garage rock dengan gaya yang sederhana, energik, dan distorsi yang agresif, serta lebih dewasa.

 

Lirik-lirik di “Jefferson” ini cukup sulit untuk dicerna secara cepat oleh pendengar karena penulisan liriknya lebih kontemplatif dan tidak secara gamblang menjelaskan maksudnya. Lirik-liriknya seperti lebih ke arah puitis dengan diksi-diksi akademis.

 

Kesimpulan

 

Lagu “Jefferson” karya FSTVLST bukan sekadar lagu, tetapi juga menyampaikan kritik sosial dan pesan kemanusiaan. Melalui liriknya, lagu ini mengajak untuk tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga berani melakukan tindakan nyata. Selain itu, lagu ini mengingatkan pentingnya menjaga ingatan terhadap tragedi 1965 agar sejarah kelam tersebut tidak dilupakan. Meski liriknya cukup puitis dan membutuhkan penafsiran, pesan yang disampaikan tetap terasa nyata serta bermakna. Lagu ini merupakan wujud benturan antara budaya dan modernitas.

 

Penulis: Tungea

Desainer: Azizah Marzha