Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) gelombang 2025/2026 resmi ditutup pada Kamis, (5/2/2026). Kegiatan penutupan KKN dilaksanakan di Aula Syekh Quro Unsika dengan melibatkan 1.658 mahasiswa yang ditempatkan di 100 desa dari tiga kabupaten dan mengundang pimpinan dari masing-masing kabupaten.
Adapun penutupan KKN gelombang kali ini mengusung tema “Akselerasi Inovasi Hijau dan Transformasi Digital menuju Kemandirian Ekonomi Berkelanjutan.” Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unsika, Dayat Hidayat, mengatakan tema KKN disusun berdasarkan urgensi permasalahan yang ada di daerah kerja, meliputi pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan lingkungan.
“Persoalan pendidikan, umum ya, kita kan bicara human development index. Pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan lingkungan,” katanya saat diwawancarai secara langsung, Jumat (6/2/2026).
Selain inovasi hijau, Dayat melanjutkan bahwa transformasi digital juga menjadi fokus melalui program seperti digitalisasi desa serta pemasaran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui e-commerce.
“Tapi kan tidak kalah penting berkaitan dengan soal digitalisasi kan sekarang, ada e-commerce, marketplace dan lain sebagainya. Termasuk digitalisasi desa,” lanjutnya.
Acara penutupan KKN di aula turut dimeriahkan dengan berbagai produk unggulan mahasiswa yang dipamerkan pada stan-stan khusus sebagai bentuk apresiasi atas Program Kerja (Proker) yang telah dilaksanakan.

Potret Stan Expo produk mahasiswa KKN, Kamis (5/2/2026).
Salah seorang peserta KKN, Mariah, mewakili kelompok KKN di Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, menerangkan bahwa dominasi produk yang dibuat dari semua desa adalah perangkap hama.
“Yang gue lihat dari semua desa itu dominan kayak bikin perangkap hama dari yellow sticky trap, terus briket sekam padi, terus bikin Sakajol juga, itu kayak Winjol, terus budidaya magot, terus apalagi ya, pokoknya banyak,” terangnya saat diwawancarai langsung, Kamis (5/2/2026).
Namun kegiatan tidak selalu berjalan dengan lancar, Mariah menyebutkan kendala yang dihadapi selama melaksanakan Proker KKN.
“Kalau untuk kendala paling kalau di desa gue kayak curah hujan aja sih, jadi kayak ngeganggu aktivitas mau prokeran gitu, curah hujannya yang gak menentu,” sebutnya.

Potret Stan Expo produk mahasiswa KKN, Kamis (5/2/2026).
Selain itu, mahasiswa KKN dari Desa Teluk Jaya, Kecamatan Pakisjaya, Karawang, Faiez Gading Akbar, mewakili kelompoknya menjelaskan bahwa mereka mengembangkan biopori sebagai solusi genangan air. Mereka membuat 16 lubang biopori sedalam satu meter di empat titik, diisi pupuk kompos organik atau dari sisa-sisa sayuran, buah-buahan, dan makanan sisa berserat.
“Jadi, biopori ini berguna untuk, contohnya ada beberapa titik yang menggenang di air desa-desa tersebut. Jadi, biopori ini bisa digantikan sebagai solusi sebelum ada pipa saluran yang lainnya. Jadi, air itu bakal menyerap beberapa genangan yang ada di desa kita untuk dalam jangka waktu yang memang gak sebentar. Jadi, biopori itu bakal digunain, contohnya bisa diisi pupuk kompos yang anorganik, bukan organik. Jadi, saya mau ngasih tau juga, cara kerja biopori itu adalah ketika kita memasukkan pupuk-pupuk ataupun barang-barang yang memang sekiranya organik kayak bekas sisa sayuran, buah-buahan, atau yang berserat lainnya. Dan, estimasi pengerjaan itu paling cepat tiga hari, paling lama lima hari,” jelasnya.
Faiez juga menambahkan beberapa hambatan yang dihadapi oleh kelompoknya dalam pelaksanaan Proker KKN, yakni faktor curah hujan yang tinggi serta minimnya partisipasi warga setempat.
“Nah, ada hambatan juga nih Kak kebetulan. Karena kita menanam di empat titik, total ada 16 lubang biopori, 16 pipa dalam kedalaman, satu meter itu. Jadi, kita mendapatkan hambatan, contohnya ketika hujan biopori itu tidak bisa dipasang. Jadi, kalau misalkan kita gali dalam kedalaman satu meter, itu susah kalau misalkan dalam musim yang hujan, memang itu hambatan paling ya. Yang kedua partisipasi warga paling ya, karena antusias dari warga itu masih minim menganggap hal ini sepele. Karena dia bukan mengeksploitasikan biopori, tapi saluran air yang memang tidak menggenang,” tambahnya.
Faiez mengungkapkan harapan untuk kedepannya bahwa produk seperti biopori dapat berguna dalam jangka waktu yang panjang.
“Kita pengen dampak ini gak besok-besok aja. Tapi 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan, atau mungkin yang tahun depan KKN lagi, itu udah berdampak dengan baik, jangka panjanglah istilahnya. Itu harapan dari kita,” ungkapnya.
Mariah juga berharap KKN gelombang selanjutnya untuk lebih inovatif lagi.
“Harapannya buat gelombang depan mungkin lebih inovatif lagi gitu, apa sih teknologi penggunaan di sananya gitu, harus lebih baik dari yang ini sih,” harapnya.
(USC, DNA)