Aksi Kamisan Karawang kembali digelar untuk ke-300 kalinya di depan Kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Karawang, Kamis (14/5/2026). Aksi mengusung tema ‘Sirine Perjuangan Penuntasan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), Berdiri Bersama Korban dan Beriman Dalam Hitam,’ aksi ini menjadi momentum bagi masyarakat sipil untuk terus menagih keadilan bagi korban pelanggaran HAM sekaligus menyoroti konflik agraria dan eksploitasi ruang hidup di Karawang. Selain membawa tuntutan penuntasan pelanggaran HAM melalui orasi, pada momentum Aksi Kamisan yang ke-300 ini digelar berbagai rangkaian refleksi seperti live paintinggallery konflik, pembacaan puisi, penampilan akustik, hingga tabur bunga sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan terhadap para korban pelanggaran HAM.

 

Koordinator Aksi Kamisan Karawang, Ule, mengungkapkan bahwa aksi kali ini dihadiri oleh berbagai komunitas dan organisasi, mulai dari Shout out Grafity Supply Karawang, hingga mahasiswa dari Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) dan Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang.

 

“Yang terlibat di aksi kamisan 300 tuh banyak sih dari kolektif-kolektif yang lain. Misalnya aku boleh sebut dari Shout out Supplies, itu tuh kawan-kawan Grafity Karawang, dari Perpusjal-perpusjal (Perpustakaan Jalanan) Karawang, ada Perpustakaan Punggung, ada Perpustakaan Jalanan Cikampek, ada Kaliaget, ada Saujana Bentala, ada dari kawan-kawan teknik, kawan-kawan hukum, dari kawan-kawan BEM-BEM Unsika, dari kawan-kawan teknik UBP,” ungkapnya saat diwawancarai langsung, Kamis (14/5/2026).

 

Berbeda dari biasanya yang digelar di kawasan Taman I Love Karawang, aksi kali ini dipindahkan ke depan Pemda Karawang. Ule menjelaskan bahwa lokasi tersebut dipilih sebagai bentuk desakan langsung kepada pemerintah daerah agar tidak lagi menutup mata terhadap berbagai persoalan rakyat.

 

“Ini adalah momentum untuk menyatukan semua masyarakat, elemen sipil untuk datang ke Pemda, menuntut keadilan yang sama, menuntut hak-hak korban, untuk kita langsung tertuju pada Pemda Karawang untuk menuntaskan masalah-masalah yang ada di Karawang,” jelasnya.

 

Selain itu, ia kemudian membeberkan sejumlah konflik agraria dan lingkungan yang terjadi di Karawang sebagai alasan tuntutan mereka. Beberapa di antaranya adalah sengketa lahan petani di Telukjambe, aktivitas tambang di kecamatan Pangkalan atau Karawang Selatan yang mengeksploitasi ruang hidup masyarakat, hingga dampak proyek pipa Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) sepanjang 14 kilometer yang mematikan mata pencaharian nelayan. 

 

“Seperti banyak kasus yang ada di Karawang. Ada kasus petani teluk Jambe yang tanah-tanah produksinya itu dihapus, diambil paksa oleh Perseroan Terbatas (PT). Terus ada juga kawan-kawan Pangkalan yang hari ini berseteru dengan PT Mas Putih Belitung (MPB) terkait Tambang. Di mana, di situ ruang hidup dieksploitasi, tanah dieksploitasi, sedangkan masyarakat tuh tertindas. Ada juga dari kawan-kawan nelayan Cilamaya yang enggak bisa makan, enggak bisa hidup gara-gara ada pipa 14 km di laut Karawang, PLTGU tempatnya,” ucapnya.

 

Menurut Ule, selama ini Pemda Karawang belum pernah memberikan respons serius terhadap tuntutan yang dibawa Aksi Kamisan. Ia bahkan menyebut pemerintah hari ini lebih berorientasi pada kepentingan kapital dan perusahaan.

 

“Hari ini pemerintah tutup telinga dan tutup mata terhadap pelanggaran HAM dan penindasan yang ada di Karawang. Pemerintah hanya berorientasi pada kepentingan kapital, PT lagi PT lagi,” keluhnya.

 

Salah satu massa aksi, Ikhsan, menilai aksi tersebut memberi sudut pandang baru bagi sebuah gerakan kolektif. Sebab, tidak hanya memberi tuntutan melalui orasi, tetapi juga menghadirkan inovasi baru dalam gerakan rakyat.  

 

“Itu ngebuka suatu sudut pandang baru atau suatu inovasi baru di gerakan kolektif atau gerakan rakyat sendiri yang di mana gerakan itu enggak hanya berbasis perlawanan yang harus capek-capekan. Akan tetapi per hari ini gerakan sudah bisa menyesuaikan dengan kondisi zaman yaitu bisa menggunakan seni, bisa menggunakan apa platform musik dan sebagainya gitu,” ucapnya saat diwawancarai langsung, Kamis (14/5/2026).

 

Potret saat massa aksi menggelar pertunjukan akustik, Kamis (14/5/2026).

 

Meski telah berlangsung hingga 300 kali, semangat peserta aksi disebut tidak surut. Ule menegaskan bahwa Aksi Kamisan Karawang akan terus digelar setiap Kamis, berapapun jumlah massa yang hadir.

 

“Mau berapapun orang yang datang ke aksi kamisan ya Aksi Kamisan Karawang harus tetap ada di setiap Kamis mau itu satu satu orang, mau itu ada dua orang, mau ada tiga orang. Yang penting kita setiap Kamis ada untuk menyuarakan tentang pelanggaran-pelanggaran HAM yang hari ini belum bisa dituntaskan oleh negara,” tegasnya.

 

Dokumentasi saat sesi tabur bunga, Kamis (14/5/2026).

 

Ule berharap negara dapat menyelesaikan semua kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.

 

“Harapanku ya adili pelaku pelanggaran-pelanggaran HAM dari (tahun) 65 sampai (tahun) 98. 65 sampai 98 harus diadili pelaku-pelakunya dan sampai saat ini yang menjadi pelaku-pelaku itu cuman pion-pionnya aja aktor-aktor lapangan aja, tetapi aktor intelektualnya,” harapnya.

 

Hal ini juga  mendapatkan apresiasi dari massa aksi, menurut S, kesadaran harus tetap dijaga agar negara tidak abai terhadap masyarakat sipil.

 

“Keren banget maksudnya teman-teman menjaga apa ya. Menjaga kesadaran gitu sampai ke 300-nya Aksi Kamisan Karawang tetap terlaksana, tetap konsisten,” ucap S saat diwawancarai langsung, Kamis (14/5/2026).

 

(PAI,MOS)