Aku mau menceritakan kejadian yang menarik banyak perhatian mahasiswa, khususnya perhatian Mahasiswa Baru (Maba) yang menjadi peserta Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) hari kedua pada kampus di Karawang. Nah, ada sebuah fenomena yang kurasa ketika mereka lakukan mereka kira ini romantis. Aku sebetulnya enggan untuk melabeli kisah mereka dengan sinema legenda Indonesia dari tahun ke tahun, tetapi ya sebut saja lah kisah cinta Rangga dan Cinta. 

 

Kisah dimulai pada pagi hari, si Rangga memang menjadi panitia bagian Publikasi, Desain, dan Dokumentasi (PDD), barangkali keliling jadi kegiatan dia selama PKKMB berlangsung. Akan tetapi, ketika sang operator sedang pergi ke kamar mandi, si Rangga yang posisinya tidak jauh dari meja operator mengambil alih Personal Computer (PC), ia berdalih ingin mengganti lagu untuk mengiringi acara selagi PKKMB belum dimulai.

 

Tak jauh dari Rangga, sang pujaan hati, Cinta, sedang bersamanya. Nah, Cinta ini katanya panitia logistik, tetapi keberadaannya di area operator digerutukan panitia lain, entah apa yang dilakukannya saat itu. Sayangnya, ketika semua panitia sedang hectic untuk mengondisikan para maba, Rangga yang sedang dimabuk cinta menayangkan ucapan ulang tahun untuk Cinta. Penayangan norak ini akhirnya dilihat oleh ribuan maba, lebih-lebih ketika ucapan itu ditayangkan, Rangga dan Cinta dengan percaya diri tanpa batasnya bersolek rupa hingga didokumentasikan oleh maba-maba yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. 

 

Tindakan ini tidak bisa dimaklumi sebagai ‘romantisme’ atau aksi ‘spontanitas’ yang polos. Dibalik penayangan ucapan ulang tahun di videotron tersebut, ada persoalan etika profesionalisme kepanitiaan yang memprihatinkan dan patut dipertanyakan. Lagi juga, anggapan apa yang mereka harapkan? Bualan semacam “Iri banget,” atau “Wah romantis sekali,”? Kurasa buah pikir yang saat ini beredar tak jauh dari kritik pedas masyarakat. 

 

Nah, aku akan ungkap habis-habisan kritikku soal fenomena ini. Pertama, aku mau bahas mengenai etika privilege kepanitiaan. Videotron dan seluruh perangkat di area PKKMB itu fasilitas yang dibiayai oleh kampus untuk mendukung kelancaran acara. Ketika seorang panitia memanfaatkan celah kelalaian, dalam kasus ini saat operator utama sedang ke toilet, kemudian menyisipkan agenda pribadi, disitulah letak batas etika yang dilanggar. Kurasa label kepanitiaan yang berakhir memberi privilege untuk panitia merasa ‘memiliki’ panggung publik merupakan perasaan yang tak bisa dilepaskan dari struktur kepanitiaan. Akan tetapi, aksi ini sayangnya menunjukkan privilege itu mengikis rasa hormat terhadap amanah kepanitiaan, komitmen, dan profesionalisme dalam mengelola acara besar di tahap universitas.

 

Kedua, dampak psikologis dan persepsi bagi maba. Momen PKKMB seharusnya menjadi momen krusial pembentukan persepsi maba terhadap kampusnya, ribuan maba datang dengan semangat untuk menjalani proses PKKMB. Di tengah rasa lelah menjalani seluruh rangkaian acara, ditambah tatapan tajam dan bayang-bayang Komisi Disiplin (Komdis), Rangga dengan ‘pertunjukan romansanya’ justru malah menimbulkan kesan yang keliru. Rangga dan Cinta malah menjadikan panggung kampus tempat untuk menunjukkan narsisme dan main character syndrome.

 

Alih-alih memperhatikan kultur akademik yang disiplin dan berempati, aksi ini justru memamerkan ketimpangan peran. Panitia bertindak sebagai ‘penguasa panggung’ yang bebas bersenang-senang dengan mengeksploitasi fasilitas kampus, sementara maba direduksi menjadi penonton figuran yang dipaksa menyaksikan drama pribadi orang lain. Jika sejak PKKMB maba sudah disuguhi budaya flexing dan pengikisan batas antara privat dan publik, apabila kedepannya orientasi kampus bergeser dari mengejar substansi intelektual menjadi sekadar mengejar panggung serta viralitas belaka, kurasa bukan salah mahasiswa nantinya. 

 

Pada akhirnya, kisah ‘Rangga dan Cinta’ versi PKKMB tahun ini bukan tentang romantisme yang indah, melainkan kegagalan memahami ruang, fungsi, serta wewenang. Untuk sang panitia PDD dan panitia logistik sebagai lakon utama, sementara ribuan maba yang lelah menjadi penonton paksaan. Beruntung jika dibayar, dalam hal ini maba justru menjadi subjek yang membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), tetapi romansa picisan yang harus mereka saksikan. Jika ingin merayakan momen pribadi, buatlah panggung sendiri dengan uang pribadi, terserah mau pakai aula sebesar stadion dengan penonton sebanyak konser musik, yang penting bukan menumpang fasilitas kampus dan mencuri panggung di acara universitas. Kampus adalah panggung intelektual, bukan bioskop pribadi dan untuk drama romansa bersponsor fasilitas universitas.

 

Penulis: Lamine Yamal

Desainer: Chika Dwi Prasetya