Kampus 2 Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) terjadi peralihan fungsi ruangan mushola menjadi auditorium di gedung laboratorium bersama. Mengingat aksesibilitas dan fasilitas ibadah masih minim di kampus 2, kebijakan ini mempersulit mahasiswa muslim dalam menunaikan ibadahnya. 

 

Salah satu mahasiswa yang aktif beraktivitas di Kampus 2 Unsika, Kal (disamarkan), mengungkapkan bahwa dengan adanya pengalihan fungsi ruang mushola, ia merasa kesulitan untuk menyisihkan waktu istirahatnya untuk beribadah. 

 

“Kalau untuk sekarang karena kita ngelihat dari KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dan segala macam ya, apalagi dari KBM yang emang udah dipadatin jadwalnya. Jadi kita enggak punya waktu terlalu banyak apalagi untuk waktu istirahat. Saya rasa pertama ke kantin aja itu cukup sulit,” ungkapnya saat diwawancarai secara langsung, Senin (13/7/2026).

 

Kal juga mengungkapkan karena padatnya jadwal kuliah, ia merasa harus menggunakan motornya demi menunaikan ibadah secara tepat waktu. 

 

“Biasanya sih kita menyiasatinya pakai motor mau enggak mau kan ya, karena kalau misalkan jalan jauh gitu ya, ada kali 300-500 m (meter) ke masjid dari wilayah kampus dan parkiran gitu kan,” ujarnya. 

 

Bangunan Masjid Utama di area depan dekat gerbang Kampus 2 Unsika, Rabu (15/7/2026). 

 

Salah satu mahasiswa Fakultas Hukum (FH) semester 4, J (disamarkan), juga menekankan bahwa jarak dari masjid terdekat yang ia ketahui cukuplah jauh.

 

“Salah satu akses lainnya itu ada di dekat gerbang, itu pun jaraknya bisa terbilang lumayan jauh dan terbilang panas. Menurut saya sih sangat-sangat merugikan bagi umat yang shalat,” tekannya saat diwawancarai secara langsung, Senin (13/7/2026).

 

J juga berpendapat bahwa sebenarnya ia tidak masalah dengan keputusan alih fungsi ruang mushola, namun karena kurangnya aksesibilitas masjid ia merasa tidak setuju dengan kebijakan ini.

 

“Sebenarnya tidak ada masalah kalau ingin ditaruh agak sedikit jauh dari gedung utamanya. Namun, dengan syarat fasilitasnya itu harus mumpuni. Mulai dari mungkin ada bus untuk mengantar atau tempat jalan kaki yang ada guide akses buat anak disabilitas dan apa pun itulah yang mendukung,“ ucapnya.

 

Menanggapi keluhan terkait pengalihfungsian ruang di gedung laboratorium bersama tersebut, Wakil Rektor (Warek) Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum Unsika, Dede Jajang, menegaskan bahwa sejak awal ruangan tersebut memang bukan diperuntukkan sebagai mushola permanen.


“Itu memang bukan untuk mushola. Bukan untuk mushola awalnya,” jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Rabu (22/7/2026). 

 

Ia menjelaskan bahwa kewenangan serta peruntukan ruangan di dalam gedung tersebut sepenuhnya berada di tingkat fakultas. Akan tetapi, pihak kampus sudah menyiapkan mushola di area belakang sebagai pilihan alternatif. 

 

“Fakultas. Bukan tidak mendukung muslimnya, bukan tidak mendukung Sarpras (Sarana prasarana) agamanya. Tapi memang peruntukan itu untuk fakultas dan shalat itu udah disiapkan di belakang, lebih nyaman, lebih leluasa. Kalau mushola tidak ada, yang lebih baik shalat di masjid, yang lebih baik. Kalau perempuan, ini sudah disiapkan di pojok itu,” tambahnya. 

 

Mushola di area belakang dekat Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Kampus 2 Unsika, Rabu (15/7/2026).

 

Mengenai persepsi jarak yang dinilai jauh oleh mahasiswa, ia menyampaikan sudut pandang keagamaan.

 

“Semakin jauh masjid, semakin tinggi pahala, itu menurut ustadz saya. Maksudnya, saya mengatakan di jarak ke masjid lebih jauh, pahala lebih besar,” ujarnya. 

 

Selain itu, ia menegaskan bahwa penempatan masjid utama di area depan berfungsi sebagai etalase sekaligus identitas kampus yang menjunjung nilai-nilai keagamaan. Penataan bangunan di Kampus 2 Unsika telah dirancang mengacu pada master plan universitas di bawah wewenang rektorat. 

 

“Terkait masalah penempatan kenapa masjid di situ, satu, merupakan menjadi personal atau brand-brand yang mencipta. Kenapa penempatan di depan, itu secara master plan mencerminkan begitu orang masuk ada simbol keagamaan,” terangnya. 

 

Jalan menuju masjid dari ruang kelas Kampus 2 Unsika, Rabu (15/7/2026).

 

J mengungkapkan harapannya untuk sivitas dapat mempermudah aksesibilitas fasilitas kampus bagi para mahasiswanya.

 

“Saya harap dari pihak rektorat mempermudah mahasiswa serta mahasiswi untuk mengakses segala fasilitas karena kan ya kita bayar dan itu juga merupakan hak kita untuk menggunakannya. Sangat disayangkan fasilitas-fasilitas tersebut sangat dipersulit ketika ingin diakses,” harapnya.

 

(AcF, WJM)