Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) menggelar acara Gelora Sosial Politik (Sospol) yang bertema “Beyond Competition Into Celebration”. Tahun ini acara Gelora Sospol memberikan nuansa baru di lingkungan kampus dengan memberikan ketentuan dress code bertemakan halloween. Ketentuan tersebut mengundang antusiasme mahasiswa Unsika untuk menghadiri acara yang diselenggarakan di halaman Gedung FISIP, Kamis (29/10/2026). 

Ketua Pelaksana Gelora Sospol 2026, Kia, memaparkan bahwa acara ini dapat menjadi alternatif bagi mahasiswa yang memiliki bakat dibidang nonakademik, khususnya dalam bidang kesenian. Terlebih lagi, acara ini menjadi wadah untuk  menampilkan bakat dan kemampuan mahasiswa di depan publik.

“Teman-teman di sini tuh jadi mendapat dukungan. Ketika dia mempunyai minat dimana minatnya itu bukan dibidang akademik saja. Jadi, kita di sini kan juga ada konser-konser. Nah, itu menunjukkan teman-teman, yang dimana mereka tuh punya semangat sendiri untuk minat diseni, gitu. Jadi, kita sebagai wadah juga gitu, untuk mewadahi mereka yang memiliki minat dibidang kesenian kayak seperti nari, nyanyi, atau nge-band segala macam itu kita sediakan untuk mereka tampil di depan banyak orang,” ungkapnya saat diwawancarai secara langsung, Kamis (29/10/2026).

Kia juga menjelaskan bahwa fokus utama Gelora Sospol ialah untuk memberikan apresiasi kepada mahasiswa. Tidak ada kompetisi dalam acara ini.

“Kali ini kita fokus terhadap apresiasi. Jadi nggak ada kompetisi,” lanjutnya.

Penampilan dari salah satu band kampus Unsika, Kamis (29/10/2026).

Selanjutnya, ia mengungkapkan bahwa puncak acara Gelora Sospol kali ini akan diisi dengan penampilan dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di lingkungan FISIP.

“Jadi puncak di acaranya itu nanti kita ada guess star dari mahasiswa FISIP itu sendiri, yaitu namanya FISIP collab. Jadi dimana setiap UKM itu menampilkan dalam satu waktu tampilan, gitu,” katanya.

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2025, Vito, yang turut hadir dalam acara tersebut, menilai bahwa FISIP merupakan salah satu  fakultas yang progresif. Ia merasa sangat antusias dalam mengikuti acara ini.

“Menurut aku FISIP itu salah satu fakultas yang progresif karena mereka mempresentasikan culture-culture yang ada di dunia lalu dibawakan ke sini dan juga ini kan setahun sekali, ya. Terus aku sangat excited gitu untuk mengikuti acara ini karena kapan lagi kan setahun sekali, gitu,” ucap Vito pada saat diwawancarai secara langsung, Kamis (29/10/2026). 

Pada malam itu, Vito tampil totalitas dengan mengenakan kostum karakter Patrick Bateman dari film American Psycho. Ia menjelaskan bahwa keputusannya memerankan karakter tersebut bukan sekadar untuk gaya, melainkan sebagai bentuk kritik simbolis terhadap sistem kapitalisme dan materialisme modern.

“Mungkin karena di film itu salah satunya mengkritik bagaimana kapitalisme bekerja. Jadi manusia hanya dinilai dari materialisme doang, jika tidak punya materi ya kehilangan human dignity tersebut. Mungkin dari era sekarang yang full of capitalism bisa merepresentasikan ide tersebut,” jelas Vito.

Antusiasme yang sama juga ditunjukkan oleh pengunjung lain yang berasal dari program studi (prodi) Hubungan Internasional (HI) angkatan 2025, Nashwa, dan mahasiswa prodi Pendidikan Masyarakat (Penmas) angkatan 2025, Bale. Keduanya mengaku sangat excited, melakukan persiapan matang dan thrifting di berbagai tempat demi tampil maksimal pada pesta kostum ini.

“Kita excited banget sih ya. Kita udah kayak nyiapin dari berapa, apalagi ini kayak kesan pertama gitu loh. Dan dia (Bale) kayak sampai nge-thrift dan cari-cari banyak-banyak di banyak tempat,” ujar Nashwa saat diwawancarai secara langsung, Kamis (29/10/2026).

Nashwa memilih cosplay sebagai karakter dari film animasi Corpse Bride karya sutradara Tim Burton. Selain karena sangat menggemari karya-karya Burton, ia juga merasa memiliki sedikit kedekatan dengan kisah karakter tersebut.

“Karena dia tuh di film itu kayak the other woman, jadi pilihan wanita kedua gitu loh. Kenapa merepresentasikan aku, mungkin lebih ke ‘I'm not the first option’ kali ya,” tutur Nashwa.

Sementara itu, Bale tampil sebagai Tyler Durden dari film Fight Club. Ia mengaku memilih karakter tersebut karena gayanya yang simpel, namun memiliki latar belakang psikologis dan sisi alter ego yang kuat.

“Dari filmnya itu ngegambarin seseorang yang kena schizo ya. Jadi si Tyler ini punya dua kepribadian. Nah, kebetulan yang aku pakai ini kepribadian keduanya, versi brutal dari si Tyler Durden itu sendiri,” ujar Bale.

Berbagai harapan positif diutarakan oleh para mahasiswa yang hadir untuk acara Gelora Sospol ke depannya. Vito memberikan masukan agar jam operasional acara serupa dapat diperpanjang lebih larut karena dinilai terlalu cepat selesai. 

“Mungkin agak dibuat lebih malam ya. Karena jam 9 itu terlalu early menurut aku,” ujarnya.

Di sisi lain, Nashwa berharap ruang apresiasi seni dengan konsep unik dan meriah seperti ini tidak hanya berhenti di tahun ini, melainkan dapat terus dipertahankan sebagai agenda tahunan yang mewadahi kreativitas mahasiswa Unsika. Bale turut berharap sesuai dengan pernyataan Nashwa, agar acara ini tidak berhenti pada tahun ini saja.

“Semoga acaranya nggak berhenti di tahun ini doang, tahun-tahun berikut ada lagi,” pungkasnya.

 

(DAM, KJY, VWV)