Membawa nama Fakultas Hukum (FH) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Tim Juris Nexus berhasil meraih Juara 1 dalam Kompetisi Debat Hukum Nasional Law Year Event 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Nasional, Sabtu (18/7/2026). Tim yang beranggotakan Theresia Naomiwati, Shania Rizky Henanto, dan Ibrahim berhasil menjadi juara dengan membedah tema debat mengenai penegakan hukum internasional di tengah konflik bersenjata.

 

Live report Kompetisi Debat Hukum Nasional Law Year Event 2026 pada Instagram @lawyear.event, Sabtu (18/7/2026).

 

Nama Juris Nexus memiliki makna yang berkaitan dengan cara tim dalam membangun pemikiran hukum. Nama tersebut menggambarkan keterhubungan antara ilmu hukum, pertukaran gagasan, dan proses diskusi yang dilakukan dalam tim.

 

“Nama Juris Nexus itu punya filosofi representasi dari pusat pemikiran dan keterhubungan dalam dunia hukum sebenarnya. Juris merujuk pada hukum atau ilmu hukum, sedangkan Nexus berarti hubungan atau titik temu. Melalui nama ini, kami ingin menggambarkan tim yang menjadikan analisis hukum, pertukaran pemikiran, dan kolaborasi itu sebagai fondasi dalam membangun argumentasi. Sehingga setiap gagasan yang kami bawa tidak hanya berangkat dari satu sudut pandang, tetapi menjadi sebuah konstruksi pemikiran hukum yang utuh,” jelas Theresia saat diwawancarai secara online pada Selasa, (4/8/2026).

 

Dalam waktu persiapan sangat singkat, ketiga anggota harus membagi waktu antara persiapan lomba dengan kegiatan magang yang sedang mereka jalani. Meski begitu, mereka tetap meluangkan waktu berlatih tiga kali dalam seminggu untuk mendalami materi. Lebih jauh, kesulitan lain turut muncul yakni ketika tim harus mencari lawan debatnya.

 

“Kita cari tim untuk sparing kadang di dalam kampus kadang juga sampe kesulitan nyari yang di luar kampus biar makin belajar dan sharing sama tim lain di luar sana yang pastinya bikin nambah insight baru. Nah alternatif tim saya kalau disaat kami ga dapet lawan buat latihan debat, kami belajar mandiri, bedah lagi materi dan evaluasi satu sama lain kurangnya di mana supaya saling melengkapi begitu,” jelasnya.

 

Dalam kompetisi ini, Juris Nexus tidak didampingi dosen secara khusus. Keputusan tersebut diambil karena pendamping bukan menjadi keharusan dari pihak penyelenggara.

 

“Kita merasa ini justru menjadi challenge buat kita biar bisa improve mandiri. Apalagi kita juga udah semester 7, kita pikir ini saatnya mengimplementasikan ilmu yang kita dapat dari semester 1 secara mandiri,” ucap Theresia.

 

Meski tidak didampingi secara khusus, proses persiapan tetap didukung oleh lingkungan FH. Tim memanfaatkan fasilitas akademik, termasuk ruangan di fakultas, serta berdiskusi dengan para dosen ketika membutuhkan masukan.

 

“Di Fakultas Hukum sendiri sudah terbentuk ekosistem akademik yang mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti berbagai kompetisi. Fakultas juga memiliki komitmen dalam pembinaan mahasiswa, di mana pengembangan minat dan bakat serta prestasi akademik menjadi salah satu fokus yang terus didorong,” tambahnya.

 

Keberhasilan tersebut menjadi hasil dari proses yang dijalani Juris Nexus, mulai dari membagi waktu di tengah magang, mencari lawan latihan, hingga melakukan persiapan secara mandiri. Bagi Theresia dan tim, pengalaman tersebut juga diharapkan dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa Unsika lainnya untuk tidak ragu mencoba berbagai kompetisi dan memanfaatkan kesempatan yang ada selama menjalani perkuliahan.

 

“Jangan takut untuk mencoba dan ambil segala peluang dalam bentuk apapun karena muda cuma sekali dan bikin cerita manis di kampus juga cuma sekali. Jadi, ketika ada peluang, jangan ragu untuk melangkah, karena mungkin kesempatan itu adalah awal dari perjalanan terbaik yang belum pernah kalian bayangkan dan satu lagi manfaatkan maksimal segala fasilitas yang kalian punya sebagai mahasiswa untuk capai prestasi,” tutur Theresia.

 

 

(AHN)