Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) Tahun 2026 resmi ditutup, Selasa (4/8/2026). Sebanyak 1.250 mahasiswa mengikuti kegiatan selama 35 hari yang tersebar di 99 desa pada 13 kecamatan di Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Bekasi.
Berdasarkan hasil survei Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsika kepuasan masyarakat yang melibatkan 1.095 responden dari seluruh desa lokasi KKN, sebanyak 97,5 responden memberikan penilaian baik dan sangat baik terhadap pelaksanaan KKN Unsika 2026. Penilaian tersebut mencakup hubungan mahasiswa dengan masyarakat, kesesuaian Program Kerja (Proker) dengan kebutuhan desa, hingga kontribusi mahasiswa dalam berbagai bidang.

Hasil survei kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan KKN Unsika 2026, Selasa (4/8/2026).
Proker yang dijalankan mahasiswa mencakup bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), administrasi desa, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Masyarakat juga menilai mahasiswa mampu membangun hubungan yang harmonis melalui sikap santun, ramah, komunikatif, serta mudah beradaptasi.
Selain itu, mahasiswa membawa sejumlah inovasi yang disesuaikan dengan potensi masing-masing desa. Beberapa diantaranya berupa rocket stove, budidaya maggot, paving block, penyulingan air, hingga penjernihan air. Ketua LPPM Unsika, Dayat Hidayat, mengatakan keberagaman program tersebut disesuaikan dengan potensi masing-masing desa.
“Macem-macem. Kan setiap desa kan sesuai dengan potensinya masing-masing. Ada yang bikin rocket stove, ada yang bikin maggot, ada yang bikin paving block, gitu. Macam-macam sesuai dengan potensi desa,” ujarnya saat diwawancarai langsung, Selasa (4/8/2026).
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional angkatan 2023 yang mengikuti KKN di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Aris Aka, dalam menjalankan proker bersama kelompoknya berupaya agar program dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui pembangunan bank sampah dan biopori yang dibagi ke setiap dusun serta digitalisasi UMKM yang dilaksanakan di tiga dusun berbeda.
“Jadi, ada proker yang memang ditugaskan untuk menjadi proker universal, dimanfaatkan semua warga dan juga ada simbolisme bahwa pembangunan itu harus dilakukan secara merata gitu,” katanya saat diwawancarai langsung, Selasa (4/8/2026).
Sementara itu, pengalaman berbeda disampaikan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi yang melaksanakan KKN di Desa Kemiri, Kabupaten Karawang, Mufida Istiqomah. Dalam pelaksanaan program, Mufida mengatakan kelompoknya sempat menghadapi kendala dalam mengajak masyarakat terlibat dalam kegiatan yang telah disiapkan.
“Kendalanya sebenarnya lebih ke warga dan perangkat desanya sih, Kak, karena kurang suportif juga ke anak-anak KKN-nya gitu. Kalau misalkan kita ngadain program atau kayak proker di desa itu tuh, perangkat desanya tuh kurang ngajak warganya gitu loh, Kak, gitu. Jadi kayak yang datang akhirnya dikit kayak gitu,” ungkapnya saat diwawancarai langsung, Selasa (4/8/2026).
Mufida berharap koordinasi dengan pihak desa dapat dilakukan lebih awal pada pelaksanaan KKN berikutnya agar mahasiswa dapat mempersiapkan program secara lebih matang.
“Mungkin nanti lebih aware saja buat nyari desa yang bisa suportif ke anak-anak KKN-nya gitu dan kalau misalkan ngasih info sesuatu juga dimohon jangan dadakan gitu biar kita juga bisa persiapannya lebih matang gitu sih,” ujarnya.
Selain masukan dari peserta, keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian LPPM Unsika setelah pelaksanaan KKN berakhir. Program yang telah dijalankan mahasiswa diharapkan tetap dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat maupun pemerintah desa.
“Yang paling penting adalah keberlanjutan. Karena kan kita berharap apa yang sudah dilaksanakan itu kan bisa dilanjutkan. Bukan sebatas mahasiswa datang ke sana, berprogram di sana, bergaul dengan masyarakat,” ujar Dayat.
Merasakan kehangatan yang dirasakan selama pelaksanaan KKN, Aris juga berharap pasca pelaksanaan KKN ini masyarakat dapat menyambut kelompok KKN-nya seperti anak yang pulang ke rumah.
“Gua harap ketika gua balik ke sana lagi nanti gua bukan disambut sebagai anak KKN tapi disambut sebagai anak yang pulang ke rumah,” harapnya.
(CCR, MOS)