Memasuki pertengahan tahun 2026, area belakang Gedung Haji Opon Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) masih menjadi tempat pilihan bagi mahasiswa untuk berdiskusi, rapat, hingga aktivitas Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pemandangan tersebut sudah seperti hal lumrah, tempat yang seharusnya berfungsi sebagai jalur pejalan kaki kini berubah menjadi area serbaguna. Lebih jauh, fenomena ini sebetulnya sudah terjadi sejak beberapa waktu ke belakang, hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah kampus memiliki hambatan untuk mengadakan fasilitas penunjang aktivitas mahasiswa atau kampus hanya enggan berbenah?
1. Situasi Prasarana Penunjang Aktivitas Mahasiswa di Tahun 2025
Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (Himadiktika) menjadi salah satu ormawa yang turut berebut tempat di belakang Gedung Opon. Ketua Umum Himadiktika 2025, Fazry Abdurrahman Ghifary, menjelaskan meskipun terdapat beberapa ruang terbuka di kampus, area belakang Gedung Opon tetap menjadi pilihan karena tempat yang teduh dan luas.
“Biasanya kita itu rapat, untuk program kerja besar. Kenapa kita bisa memakainya di belakang Opon atau Rektorat, karena yang pertama itu teduh, lalu yang kedua itu lega (luas) tempatnya. Di tempat lain yang teduh tuh sedikit sempit, adanya pun ruang terbuka yang kalau hujan ataupun panas langsung kena,” ujarnya saat diwawancara langsung, Senin (6/10/2025).
Fazry mengaku bahkan Himadiktika sering kali menandai tempat belakang Gedung Rektorat dari jauh-jauh hari demi terhindarnya bentrok jadwal dengan ormawa lain.
“Kalau misalkan tempatnya udah ditake (ditandai) duluan, oh yaudah kita ganti tanggal atau jam, tapi untuk mengantisipasinya biasanya dari Himadiktika itu dari H-3 atau H-4 untuk men-take tempatnya,” tambah Fazry.

Perebutan tempat antar ormawa dengan penempelan kertas, Kamis (2/10/2025).
Selain Himadiktika, Ketua Umum Teater Gabung 2025, Nurul Fadhila, juga memberikan tanggapannya. Ia mengaku keterbatasan ruang tidak terlalu berdampak pada internal organisasinya karena Teater Gabung kerap mengakalinya dengan beraktivitas secara online dan cara-cara lainnya. Namun, menurut Nurul, yang pasti keterbatasan ruang sangat berpengaruh besar terhadap kegiatan organisasi secara umum.
“Kalau dari sisi Teater Gabung kayaknya engga, karena produktivitas itu kan balik lagi ke internal kitanya ya, karena mungkin kita bisa adain online atau lainnya. Cuman kalau dari sisi organisasi itu sangat menggangu banget karena kita juga sebagai organisasi pasti sangat membutuhkan ruang,” ungkapnya saat diwawancarai langsung, Rabu (15/10/2025).
Menanggapi keterbatasan ruang, menurut Nurul, sebaiknya kampus memberikan ruang serbaguna supaya ormawa dapat bebas menggunakannya.
“Bukan membandingkan nih ya, ada satu kampus yang menggunakan ruang serbaguna, membebaskan mahasiswanya menggunakan ruang tersebut. Jadi mahasiswa dibebaskan gitu mau dipake apa aja ruang serbaguna itu sama ormawa. Itu sih harapan saya, bisa ada ruang serbaguna di sini,” ujar Nurul.
2. 2026 dengan Kondisi yang Belum Berubah dan Janji Manis Sivitas Kampus
Seorang mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), R (disamarkan), mengatakan area belakang Gedung Rektorat menjadi salah satu tempat yang digunakan mahasiswa untuk berkumpul karena memiliki area yang cukup luas. Namun, penggunaan tempat tersebut secara bergantian tidak selalu berjalan lancar. R mengaku pernah mengalami bentrokan dengan kelompok lain yang hendak menggunakan area yang sama.
"Sebetulnya kalau ditanya cukup atau enggak, enggak ya. Karena kita juga pernah bentrokan ketika ingin memakai lantai di Opon tersebut gitu," ujarnya saat diwawancarai secara langsung, Selasa (21/7/2026).
Menurut R, ruang publik yang tersedia di Unsika belum cukup untuk menunjang kegiatan mahasiswa. Alih-alih untuk mengerjakan tugas kelompok, R merasa untuk makan saja di area kantin bila ditemukan sangat padat, tidak ruang untuk dirinya makan.
"Kalau menurut aku sendiri, belum (cukup). Karena melihat dari kantin sendiri itu kalau siang ya, itu udah padat banget. Bahkan kita pernah di posisi enggak kebagian tempat duduk gitu untuk kerja kelompok atau bahkan untuk makannya sendiri," katanya.
R mengatakan keterbatasan fasilitas ruang yang tersedia di kampus memaksanya untuk menjadikan masjid sebagai pilihan terakhir karena lokasinya yang cukup luas. Meski digunakan sebagai alternatif, R tetap menilai masjid bukan tempat yang ideal untuk digunakan selain untuk beribadah.
"Untuk masjid sendiri kalau dari saya sendiri itu opsi terakhir. Kalau semisal di kelas penuh dan kantin juga penuh, kita biasanya menggunakan masjid yang memang memiliki koridor atau tempat yang cukup luas untuk kita bisa kerja kelompok di situ. Sebetulnya memang tidak ideal. Karena untuk masjid sendiri tempat untuk beribadah. Namun, karena memang fasilitas dari universitas kurang memadai, jadi kita tidak punya pilihan lain untuk mencari tempat untuk kita kerja kelompok gitu," ujarnya.
Akibat keterbatasan ruang, R merasa persoalan ini akan berdampak pada kegiatan akademik mahasiswa. Ia mengatakan mahasiswa mengalami kesulitan untuk merasakan fasilitas karena sebagian mahasiswa yang beruntung dapat merasakan fasilitas, sementara sebagian lainnya tidak.
"Dampaknya kita jadi kesulitan. Untuk merasakan fasilitas juga kita (mahasiswa) jadi tidak merata gitu. Karena fasilitas yang terbatas, terus kita juga jadi kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas dari universitas," tuturnya.
Menanggapi persoalan keterbatasan ruang tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum Unsika, Dede Jajang Suyaman, mengatakan pihak kampus akan mengupayakan pemenuhan sarana dan prasarana bagi mahasiswa. Salah satu fasilitas yang direncanakan adalah pembangunan amphitheater di Kampus 2. Untuk teknis penggunaan lebih lanjut, Jajang mengatakan pihak kampus akan mengatur supaya tidak terjadi perebutan penggunaan fasilitas.
"Insyaallah, 2026 akan dibangun amphitheater buat mahasiswa. Silakan pergunakan, amphitheater, gedung untuk kegiatan mahasiswa. Tapi kita atur (penggunaannya), jangan sampai rebutan, jadi nanti berantem," ujarnya saat diwawancarai pada Rabu (22/7/2026).
Di sisi lain, Dede Jajang menanggapi kebiasaan mahasiswa menempelkan kertas pada area belakang Gedung Rektorat untuk menandai penggunaan tempat. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai vandalisme dan meminta mahasiswa tidak melakukan hal serupa.
"Mahasiswa sudah melakukan vandalisme merusak aset negara. Enggak boleh itu vandalisme," ujarnya.
(CCR)