Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) gunakan fasilitas masjid kampus 2 untuk menjalankan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) hari pertama pada Mahasiswa Baru (maba), Kamis (30/7/2026). Berbeda dengan tahun sebelumnya yang memanfaatkan area parkir dengan tenda, panitia pelaksana tahun ini memutuskan untuk menggelar kegiatan di masjid kampus karena evaluasi cuaca ekstrem tahun lalu.
Ketua Pelaksana PKKMB Fikes, Jendra, menegaskan bahwa penggunaan masjid tersebut ditetapkan dari hasil audiensi bersama pihak.
“Dari kami tuh sebenarnya sempat beraudiensi bahwasanya sivitas pengennya di masjid. Karena dari sivitas itu ngelihat tahun kemarin, waktu itu (maba) kepanasan dan banyak sekali yang masuk ke P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) karena panas. Nah makanya kita memilih untuk di masjid,” tuturnya saat diwawancarai langsung pada Jumat, (31/7/2026).
Tahun ini, jumlah mahasiswa baru Fikes mengalami peningkatan hingga mencapai sekitar 445 orang. Penambahan ini disebabkan hadirnya Program Studi (Prodi) baru, yaitu S1 Kebidanan. Melihat adanya peningkatan jumlah tersebut, Jendra turut menanggapi terkait kondisi ruangan masjid cukup luas untuk menampung mahasiswa baru bahkan tidak mengganggu aktivitas beribadah bagi yang muslim karena panitia sudah mengatur layout ruangan sebaik mungkin.
“Kalau untuk maba di tahun ini total yaitu 441 apa 445 gitu. Makanya kita memilih di masjid kan karena luas. Jadi, anak-anak juga enggak terlalu gerah dan enggak berdempet-dempetan lah. Kami juga sudah mengatur terkait layout untuk segi sholatnya. Kita pakai bagian tengah dari masjid (untuk kegiatan utama), nah bagian depan buat sholat, seperti itu,” lanjutnya.

Live report hari pertama PKKMB Fikes pada Instagram @pkkmbfikes.unsika, Kamis (30/7/2026).
Sementara itu, salah satu maba, Najla, menilai lokasi pelaksanaan PKKMB sudah mendukung jalannya kegiatan. Menurutnya, penggunaan masjid tidak mengganggu aktivitas ibadah karena panitia mengatur alur peserta secara tertib.
“Menurut saya, kalau untuk masjid enggak apa-apa banget buat dipakai kegiatan. Terus waktu kegiatan sholat kita diarahinnya per kelompok, jadi enggak berkerumun gitu karena masjidnya juga luas banget,” ujarnya saat diwawancarai langsung pada Jumat, (31/7/2026).
Pendapat serupa disampaikan maba lainnya, Handika. Ia menilai pemanfaatan masjid cukup efektif karena memudahkan peserta menjalankan ibadah disela-sela rangkaian kegiatan PKKMB.
“Soalnya kan acaranya di masjid, kalau keluar semua enggak memungkinkan juga. Di samping sebelah kiri paling depan itu masih ada space buat kita untuk sholat, terus juga dipisah sih untuk beberapa mahasiswa. Nah sesi pertama, sesi keduanya nanti menunggu sesi yang pertama sudah selesai salat gitu,” ungkapnya saat diwawancarai langsung pada Jumat, (31/7/2026).

Area Masjid Unsika 2, Jumat (31/7/2026).
Meski demikian, Jendra mengakui bahwa penggunaan masjid untuk kegiatan kemahasiswaan bukanlah solusi ideal. Ia berharap di tahun berikutnya panitia dapat menemukan alternatif lain dengan mempertimbangkan anggaran dan kenyamanan peserta.
“Kalau untuk kedepannya sih kurang ideal, karena kita menggunakan tenda itu takutnya dari maba akan sakit lagi. Paling tahun depan gak mungkin buat ke masjid lagi, kita akan cari solusinya gitu buat tahun depan,” pungkasnya.
Handika pun memberikan saran agar kedepannya pemilihan lokasi lebih memperhatikan kenyamanan peserta, karena meski sudah melaksanakan PKKMB di masjid, Handika masih merasakan panas.
“Tempatnya lebih adem lah, soalnya saya merasa panas di tempat itu,” tutupnya.
(NYV, CLS, DKT)