Penggunaan bahasa lisan dan tertulis seringkali berbeda. Hal ini menimbulkan perbedaan antara ucapan lisan dengan ucapan tertulis. Terkadang, bahasa tidak baku lebih nyaman untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari, membuat seseorang lebih merasa akrab dan komunikatif saat berkomunikasi. Namun, saat sedang mengerjakan artikel jurnal, tesis, atau karya tulis ilmiah lainnya, penulis dituntut untuk menggunakan bahasa sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

 

Menurut Salliyanti (Devianty, 2021), bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok, diajukan dasar ukuran, atau dijadikan standar. Kata baku bahasa Indonesia mendukung empat fungsi, tiga fungsi pertama dianggap sebagai fungsi pelambang atau simbolik, sedangkan satu fungsi terakhir dianggap fungsi objektif, yaitu (1) fungsi pemersatu, (2) fungsi pemberi kekhasan, (3) fungsi pembawa kewibawaan, dan (4) fungsi sebagai kerangka acuan (Devianty, 2021).

 

Penulis seringkali mengalami keliru dalam penggunaan bahasa baku pada tulisan. Contohnya, penulisan ‘apotek’ merupakan tulisan bakunya, namun penggunaan bahasa lisan seringkali menyebutkan ‘apotik’ yang merupakan istilah tidak baku. Lalu, penggunaan kata ‘respon’ ialah bentuk tidak baku, bentuk baku pada tulisan ini adalah ‘respons’ yang menggunakan s di ujung kata. Contoh lain penggunaan kata ‘fotocopy’ atau ‘foto kopi’ maupun ‘photokopi’, kedua bentuk kata ini kurang tepat dan termasuk dalam kata tidak baku, kata bakunya ialah ‘fotokopi’ yang memiliki arti sebagai hasil reproduksi (penggandaan) fotografis terhadap barang cetakan (tulisan).

 

Lalu, apakah penggunaan bahasa tidak baku adalah suatu kesalahan? Penggunaan bahasa tidak baku tidak sepenuhnya salah, tergantung dengan tujuan penggunaan. Menurut Arifin dan Tasai (Jamilah, 2017), ragam baku merupakan ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Maka hal tersebut menjadi alasan dasar penulisan karya ilmiah menggunakan ragam baku tulis sebagai standar penulisannya.

 

Kemampuan untuk menyesuaikan penggunaan bahasa menjadi hal yang sangat penting. Seseorang perlu memahami konteks, situasi, dan tujuan komunikasi sebelum memilih penggunaan kata. Kehadiran keduanya bukan untuk dipertentangkan ketepatannya, melainkan untuk digunakan secara bijak sesuai dengan kebutuhan pengguna bahasa. . Kehadiran keduanya bukan untuk dipertentangkan ketepatannya, melainkan untuk digunakan secara bijak sesuai dengan kebutuhan pengguna bahasa. Dengan mengetahui dan memahami fungsi masing-masing, seseorang dapat berkomunikasi dan menyusun suatu kalimat secara efektif.

 

Penulis: Redaktur Bahasa

Desainer: Hanifah Nur Rohmah