Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) menyelenggarakan Dies Natalis Penegerian yang ke-12 di Aula Syekh Quro Unsika, Selasa (6/10/2026). Acara ini mengusung tema “12 Tahun Unsika: Bersama Unggul, Berdampak, dan Mendunia” yang menegaskan komitmen Unsika untuk tetap inklusif, tertib, dan senantiasa memberi manfaat serta membawa dampak positif tidak hanya bagi keluarga besar Unsika, tetapi juga bagi dunia. Acara ini dimeriahkan dengan kirab budaya dan sidang senat, kemudian diwarnai pengukuhan guru besar yang menjadi inti dari acara, pertunjukan seni tari Tarawangsa, hingga ditutup dengan penganugerahan penghargaan kepada insan Unsika berprestasi. 

 

Dalam momentum perayaan tersebut, Rektor Unsika, Ade Maman Suherman, menegaskan bahwa saat ini pihaknya sedang berfokus untuk melakukan pengembangan pelayanan Sumber Daya Manusia (SDM), mulai dari penelitian hingga pengajaran. Selain itu, ia juga menekankan komitmennya untuk secara bertahap melengkapi sarana prasarana kampus, khususnya Kampus 2 Unsika. Ia juga memprediksi bahwa pada akhir tahun ini akan melakukan serah terima salah satu fasilitas di kawasan kampus dua.

 

“Makanya kita menekankan untuk tetap mempunyai komitmen untuk studi belajar dan sebagainya, dibarengi dengan kita melengkapi fasilitas, walaupun semuanya belum selesai, mungkin akhir tahun ini ada satu yang mungkin serah terima. Sisanya mungkin ada yang nyebrang tahun ke 2027 gitu ya,” ucapnya saat diwawancarai secara langsung, Selasa (6/10/2026).

 

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Safuri Musa, menjadi satu-satunya dosen yang dikukuhkan sebagai guru besar pada perayaan tersebut. Dalam acara, Safuri diberikan kesempatan untuk menyampaikan sebuah orasi ilmiah. Ia menekankan tiga hal utama. Pertama, menyerukan perluasan akses pendidikan bagi siapa saja mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga manusia usia lanjut (manula), terutama masyarakat terpinggirkan yang tidak dapat menjangkau pendidikan formal. Kedua, menegaskan pentingnya peningkatan kemampuan dan keahlian masyarakat guna beradaptasi dengan perubahan zaman. Ketiga, menyatakan bahwa pemberdayaan manusia tidak boleh hanya berfokus pada pemahaman dan kemampuan pribadi, tetapi disertai dengan pemberian makna, arti, serta manfaat nyata bagi orang lain.

 

“Pada akhirnya kita juga bisa memberdayakan dirinya (diri sendiri) dan orang lain. Kan kita lebih bermakna, yaitu dengan kalimat saya itu adalah human flourishing. Jadi manusia yang memberi makna memberi arti. Ya, bukan bagi dirinya saja tapi juga memberi makna bagi orang lain,” ucap Safuri saat diwawancarai secara langsung, Selasa (6/10/2026).

 

Pengukuhan Safuri Musa sebagai guru besar Unsika, Selasa (6/10/2026).

 

Penobatan Safuri sebagai guru besar mengundang apresiasi serta dukungan dari dosen dan kerabatnya, salah satunya datang dari dosen FKIP, Dewi Herlina Sugiarti. Ia berpendapat bahwa Safuri merupakan salah satu dosen senior yang memiliki kontribusi serta kiprah yang cukup besar, baik di bidang akademik, pelayanan masyarakat, maupun bidang lainnya. Terlebih, Safuri memiliki kepribadian yang lembut dan gemar menyemangati dosen-dosen muda.

 

“Bapak itu orang yang menyenangkan ya, lembut, kemudian suka menyapa. Kalau manggilnya, “Teh, ayo sampai mana nih,” kayak gitu. Jadi, beliau sering menyemangati dosen-dosen muda supaya terus mengejar karir, mengejar pendidikan, dan menyemangati kami seperti itu,” ucap Dewi saat diwawancarai secara langsung, Selasa (6/10/2026).

 

Ade Maman mengungkapkan bahwa pengangkatan Safuri secara tidak langsung dapat memberikan dampak positif berupa peningkatan akreditasi untuk institusi maupun program studi (prodi). Oleh karena itu, sebagai salah satu bentuk dukungan, ia turut mendorong serta mencari cara untuk mempercepat pengurusan dan penurunan Surat Keputusan (SK) agar Safuri secepatnya menjadi guru besar.

 

“Makanya saya tuh, langsung aja di didorong bagaimana caranya Pak Safuri itu bisa secepatnya untuk mengurus guru besar dan bisa turun ininya, SK-nya. Alhamdulillah sudah bisa turunkan, disaksikan oleh kita bersama tadi tentang pakarnya, kepakarannya adalah tentang layanan pendidikan masyarakat ya,” ungkapnya.

 

Selain pengukuhan guru besar, acara tersebut juga dimeriahkan oleh pertunjukan tari Tarawangsa yang dipersembahkan oleh Keraton Sumedang Larang, sebuah seni tradisional Jawa Barat yang memadukan alunan musik serta tarian sederhana bertempo lambat. Berbeda dengan pertunjukan tari tradisional pada umumnya, pertunjukan tari Tarawangsa ini dimulai dengan pujian dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian diakhiri dengan sesi interaktif yang mengajak hadirin untuk menari bersama. Dewi mengungkapkan kekagumannya pada seni tari tersebut dan menilai bahwa pertunjukan tersebut merupakan momen langka ini belum tentu dapat dirasakan di instansi lain.

 

“Nuansa budaya yang ditampilkan dan ini jarang dan mahal sekali momen ini belum tentu didapatkan oleh orang lain dan instansi lain. Jadi, ini harusnya menjadi kesempatan yang luar biasa untuk Unsika,” ujarnya.

 

Pertunjukan tari Tarawangsa oleh Keraton Sumedang Larang, Selasa (6/10/2026). 

 

Dalam momentum Dies Natalis tersebut, Ade Maman menyampaikan optimismenya terhadap berbagai capaian kerja yang telah direalisasikan sesuai target perencanaan. Ia berharap seluruh hasil pembangunan dan pengembangan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan peruntukannya.

 

“Ya harapan saya selalu optimis lah. Dengan hasil kerja dari saya di sini sampai sekarang udah membuahkan ada beberapa hasil yang memang sesuai target rencana sehingga nanti pada saatnya bisa dipergunakan sesuai dengan peruntukannya gitu kan. Ya tridarma lah gitu untuk pengajaran, pendidikan, kemudian penelitian, pengabdian itu bisa bagian dari hal yang tidak terpisahkan dari pendidikan tinggi gitu,” harapnya.

 

(OWI, MOS)