
Judul Buku: Marhaenisme dalam Dialektika Aristoteles
Penulis : Willy Farianto
Penerbit : GDN Press
Cetakan pertama : Juni 2026
Spesifikasi : 13 x 19 250 halaman
ISBN : 978-634-96238-9-6
Jenis: Filsafat Politik
Sinopsis
Marhaenisme dalam Dialektika Aristoteles menghadirkan pembacaan baru atas pemikiran Sukarno dengan menempatkannya dalam kerangka dialektika Aristotelian. Berangkat dari kritik terhadap kajian yang selama ini cenderung deskriptif atau sekadar membandingkannya dengan Marxisme, buku ini menelusuri proses argumentatif yang melahirkan marhaenisme sebagai sebuah bangunan pemikiran. Melalui penelusuran genealogi ide, dialog dengan teori-teori imperialisme dan kapitalisme, serta penyaringan argumentatif ala dialektika, buku ini memperlihatkan bahwa marhaenisme bukan sekadar doktrin, melainkan hasil pergulatan intelektual yang logis dan kontekstual (penerbitgdn.com).
Latar Belakang
Dewasa ini, kita kerap menyaksikan fenomena simplifikasi yang menyederhanakan keragaman dalam berbagai ranah intelektual, tidak terkecuali dalam diskursus mengenai dialektika. Ketika istilah ‘dialektika’ digaungkan atau disebutkan dalam ruang publik maupun akademik, ingatan kolektif kita secara spontan dan mekanis hampir selalu mengarah pada nama Georg Wilhelm Friedrich Hegel atau varian materialistis dari Karl Marx. Dominasi Hegelian ini mengaburkan fakta sejarah bahwa dialektika memiliki akar yang jauh lebih kaya dan beragam. Akibatnya, tidak banyak kajian atau bahasan kontemporer yang secara jernih menjelaskan keragaman dialektika, yang salah satunya adalah dialektika dalam kacamata Aristoteles. Sedikit mengulas terkait esensi dialektika Aristoteles, sederhananya, dialektika Aristoteles adalah sebuah metode yang mengizinkan kita untuk membuat silogisme dengan bertitik pangkal dari opini-opini umum yang sudah diterima oleh masyarakat (endoxa). Ia juga berfungsi sebagai sebuah cara logis untuk mempertahankan argumen tanpa menuntut kita mengatakan hal yang berlawanan atau kontradiktif dengan sebuah pernyataan awal yang kita pertahankan (Topiques I 100a18; lihat pula interpretasi dalam A. Setyo Wibowo, 2022: 50).
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengupas tuntas seluruh dimensi dialektika Aristoteles secara umum. Fokus utama kajian pada tulisan ini dipusatkan secara spesifik untuk membedah buku karya Willy Fariyanto yang berjudul Marhaenisme dalam Dialektika Aristoteles. Kehadiran buku ini menjadi penting justru karena ia berani keluar dari arus utama simplifikasi tersebut dan menawarkan perspektif segar dalam membaca ideologi lokal Indonesia.
Salah satu hal mendasar melatarbelakangi penulis buku ini untuk berbicara mengenai marhaenisme menggunakan kacamata dialektika Aristoteles adalah kegelisahan akademis terhadap literatur yang ada. Selama ini, banyak sekali uraian tentang marhaenisme yang hanya berhenti pada tataran deskriptif, naratif, atau bahkan glorifikasi sejarah semata. Banyak pengkaji yang gagal atau enggan untuk melihat melampaui teks-teks permukaan guna menyelami spektrum pemikiran mendalam di belakangnya seolah-olah menjadi basis epistemologis bagi lahirnya Marhaenisme.
Berangkat dari kondisi stagnan, Willy Fariyanto seakan diyakinkan oleh sebuah tradisi intelektual kuat, yang menyebutkan bahwa, “Pemikiran tidak pernah lahir dari spektra kosong, pasti selalu ada yang menjadi pendahulu dari pemikiran tersebut". Begitu pula halnya dengan pemikiran politik besar seperti marhaenisme; ia merupakan buah dari sintesis, dialektika, dan pergulatan pemikiran-pemikiran yang mendahuluinya.
KELEBIHAN:
Buku ini, seperti yang telah disinggung di muka, hendak membedah dan membaca marhaenisme menggunakan kacamata dialektika Aristoteles. Pendekatan ini tidak berhenti pada sekadar formalisme logika, melainkan bermuara pada penelusuran mengenai perdebatan-perdebatan ideologis di antara para pemikir Marxis. Pembaca akan diajak melacak silang pendapat antara tokoh-tokoh besar seperti Karl Kautsky, Rosa Luxemburg, Otto Bauer, Rudolf Hilferding, hingga Anton Pannekoek, dan sebagainya yang pada akhirnya menjadi basis pemikiran melatarbelakangi lahirnya pemikiran politik Sukarno.
Melalui dialektika Aristoteles, buku ini seakan ingin menjelaskan secara lebih ilmiah, mendalam, dan terstruktur mengenai cerita yang sudah terlanjur menjadi mitos atau konsumsi khalayak umum mengenai marhaenisme, cerita yang menyebutkan bahwa ideologi ini ‘katanya’ lahir seketika setelah Sukarno bertemu dengan seorang petani kecil bernama Marhaen di Bandung. Buku ini mendobrak reduksionisme historis tersebut dengan menunjukkan bahwa perjumpaan empiris itu mewujud menjadi ideologi karena ditopang oleh struktur intelektual yang kokoh dari pembacaan Sukarno atas perdebatan sosialisme dunia.
KEKURANGAN:
Sering disinggung bahwa buku ini menggunakan dialektika Aristoteles sebagai pisau analisis, tidak berlebihan jika penulis menyebut buku ini menuntut pembaca memiliki pemahaman awal yang baik mengenai filsafat Yunani, khususnya logika dan dialektika Aristoteles. Bagi pembaca awam, perpaduan antara teori marhaenisme dan filsafat klasik bisa terasa sangat abstrak serta berat sebagai kekurangan.
KESIMPULAN:
Sebagai kesimpulan, di samping inisiatif buku ini dalam menjelaskan marhaenisme beserta perdebatan marxisme internasional yang melatarbelakangi kelahirannya, hal mendasar yang menjadikan buku ini cukup menarik adalah inisiatif penulisnya untuk mencoba kembali menghidupkan diskusi mengenai aneka ragam dialektika. Secara khusus, ia mengangkat kembali dialektika Aristoteles (doksografi) ke permukaan, sebuah wilayah yang dalam lanskap literatur kontemporer saat ini memang bisa diasumsikan relatif sedikit atau jarang dibahas. Dengan demikian, membaca buku ini bukan hanya sekadar memahami ulang marhaenisme, melainkan juga merayakan kembali kekayaan tradisi filsafat klasik yang seringkali terlupakan
Penulis: Salman Faris (Fakultas Agama Islam)
Desainer: Irfan Fadhilah Husaeni