Air hujan menggenangi dataran, mengisi lubang jalan, kecoklatan. Angin berhembus kencang melewati sela-sela antara telinga dan helaian rambut sedada. Hujan telah reda, sejuk yang menyelimuti merangsang rambut-rambut halus hingga berdiri. Helai kain menyibak ke sana ke mari mengikuti arah angin membawa sampai kuyup dan membekas sebab tetumbuhan basah mengurung.

 

Gundah hati mendengar suara bisikan melintasi telinga, bukan yang pertama kalinya. Suara menjalar, membisingi kepala, semakin dihindari semakin menyayat tubuh. Lengan, batang leher, wajah, tersayat habis. Berlari di tengah hujan yang kembali turun, noda merah tua menodai kain-kain yang menutup raga. Bunga-bunga bercorak, berwarna cerah indah jadi muram menguncup merah kehitam-hitaman. 

 

Berlari tergesa selayaknya diburu, entah apa di belakang. Duri-duri dari tumbuhan rasanya semakin menajam hingga tak terbentuk kedua kaki. Mata buram, tubuh lemas, tapi sayatan belum selesai, entah sampai kapan, mati barangkali. Sampai akar berduri mengikat kaki menghentikan langkah dan tersungkur menyerah. 

 

Kesadaran minim, langit terlihat abu pekat, hujan masih membasahi semua yang ada. Ikatan erat akar menjalar hingga ke tubuh atas, duri di mana-mana, tak berbentuk sudah. Pembuluh darah membiru, detak jantung melemah, rasa lelah berlari tertimbun sesak di dada. Mati barangkali, setelah ini. Siapa peduli, habiskan penderitaan ini. Nafas tersendat tak lagi jadi masalah, sekarat ini dinikmati dengan baik. 

 

Bagaimana tidak, selama sekarat, bunga-bunga kuncup merah kehitam-hitaman itu tiba-tiba mekar menampilkan warna cerah indah. Langit membawa pergi kabut dengan hujan yang membersamai, entah ke mana, ditampilkannya kini langit biru cerah dan awan menyerupai sabit. Semuanya seperti menyambut kematianku, lagi. Paham betul kematian ini akan berakhir indah, bukan pertama kali. Sampai matinya, hanya sejuk dingin merasuk tajam ke tubuh yang terakhir kali terasa. 

 

Di tengah-tengah sekarat, pikiran terbawa masuk ke dalam sebuah ruangan, nampak seperti kamar tidur, tetapi tidak yakin, siklus ini menghilangkan memori bagaimana kamar tidur terlihat. Dinding berwarna krem cerah dengan tumpukan sampah di mana-mana. Arah jarum jam di atas meja menunjukkan pukul setengah lima sore.  Di sana ada perempuan, berbaring, tubuhnya bersih, mengenakan pakaian panjang putih dengan rambut sepinggul. Lalu meraih kotak segenggam yang berisi pil-pil kecil. Barangkali ada 4 pil di tangannya, kemudian habis ditelan. Sayang sekali

 

Sekelebat memori sebelum akhirnya pandangan gelap gulita. Pembuluh darah itu tidak lagi berdenyut,  cahaya dari lampu di tengah taman yang menyorot mata tidak membuat mata ini bereaksi, aku tak sadarkan diri, mati. Kemudian bangkit lagi, berdiri di atas halte dengan hujan deras, menatap ke taman penuh bunga-bunga bercorak, tempat mati tadi. Air hujan menggenangi dataran, mengisi lubang jalan, kecoklatan. Masih dengan pakaian yang sama, putih bersih, selutut, rambut sedada dan tubuh yang masih tak tersentuh sayatan-sayatan gila. Mini bus berhenti di hadapan, meski sudah melalui ini, jantung yang berdebar-debar masih mengikuti. Langit sekarang agak meredup, matahari yang samar terlihat segera tenggelam.

 

Seseorang menuruni anak tangga bus, wanginya sudah semerbak, tetapi tidak mengganggu penciuman sama sekali. Bayangannya menyerupai sabit dengan gagang panjang mencolok, namun setelah menampakkan diri, jauh dari itu, hanya selayaknya manusia biasa. Terlintas sejenak untuk berlari menghentikan siklus sialan ini, tetapi kaki, hati, kepala, enggan beranjak sama sekali seperti memang sudah seharusnya menunggu kedatangannya dan membiarkan siklus ini meroda kembali. Amarah, hampa, bahagia memenuhi hati ketika ia berdiri di hadapan dan sentuhannya mengenai tiap-tiap detail tubuh. Mengikis ingatan akan sekarat yang baru terjadi. Terbuai ayun atas jamahan, rasanya seperti waktu meluang untuk itu dan barangkali ia suka.

 

Mungkin ini alasan kenapa bahkan raga enggan beranjak, karena sejauh apapun ia mendorongku masuk ke jurang, ia pula yang akan membangkitkanku, semua ini. Bahkan, sentuhannya tak pernah sedikitpun menyakiti, apalagi menghasilkan sayatan. Rasanya mata mulai sayup-sayup dengan sesak namun membahagiakan. Sampai di sini, jangankan berlari, ada niatan beranjak pun tidak. Tetapi, tatkala sabit tajam itu mengubah lengan indahnya, ia mengikis helai demi helai rambut hingga habis seleher. 

 

Tak sadar dibawanya kembali ke tengah taman penuh bunga mekar indah, undangan yang selalu dinanti namun tak kunjung datang. Justru kabut menghampiri, langit meredup, sabit di bayangan itu mulai membentukmu sedemikian rupa, kemudian hilang entah ke mana. Bisikan itu lagi, suaranya melintas terus di telinga. Berlari lagi, menghindar lagi, sayatan lagi, sekarat lagi, memori lagi. 

 

Namun kali ini tak terhenti sampai perempuan itu meneguk 4 pil. Memori itu berlanjut, memaksa memperlihatkan bagaimana 4 pil yang dikonsumsinya terlarut di tubuh dan membuahkan busa yang keluar tak berhenti dari sudut mulutnya. Kusaksikan bagaimana nafas perempuan itu tersengal, dadanya yang berdetak kencang, hingga wajah yang memucat, namun sunyi membiarkannya tak sadarkan diri. 

 

Kemudian pandangan hitam gelap mati, jantung tidak lagi berdetak untuk memberiku kesempatan bernafas. Aku mati lagi. Tetapi kebangkitan sialan itu masih tak bosan menghidupkanku kembali, aku masih tak beranjak dari halte yang sama. Hujan masih mengguyur, namun kini tenggorokan terasa panas hingga tersedak mengeluarkan busa dari mulut, dadaku turut berdetak hebat. Lalu mini bus itu terlihat lagi, namun ukuran sabit itu nampaknya jauh semakin lebih besar hingga mengikis langit dan mengoyak atap mini bus. Siklus ini akan terulang kembali, namun barangkali tiga sampai empat siklus lagi, semuanya selesai, tak ada lagi yang perlu dibangkitkan. 

 

Penulis: Minggu

Desainer: Ajeng Putri Y.