Bayangkan, kamu adalah seorang mahasiswa rantau di Karawang. Tanggal tua perlahan mencekik, kiriman dari kampung halaman telat entah sampai kapan, dan saldo rekening atau dompet digital sudah sisa belasan ribu yang bahkan tidak cukup untuk ditarik tunai di Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Perutmu sudah perih berbunyi sejak siang. Air galon di kosan tinggal tetesan terakhir dan bisingnya suara mesin pabrik dari kejauhan seolah mengejek dompetmu yang kosong melompong.
Di tengah keputusasaan itu, kamu iseng membuka TikTok untuk mencari hiburan. Muncul sebuah akun bernama @nasi.darurat.karawang. Mereka menawarkan satu syarat yang terdengar konyol, tetapi menyelamatkan nyawa, yaitu mengirimkan foto Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan kamu akan dikirimkan sebungkus nasi. Tanpa pikir panjang soal bahaya keamanan data atau privasi, kamu mengirim foto itu. Yang penting malam ini bisa tidur tanpa harus menahan lambung melilit.
Kejadian ini bukan cerita karangan. Ini benar-benar kenyataan di salah satu kota industri paling kaya di Indonesia. Dan anehnya, kita kadang lebih sibuk bilang, "panjang umur orang baik" ketimbang mikir, "kok bisa ya sampai begini?"
Addon dan Pahlawan yang Seharusnya Tak Pernah Ada
Nasi Darurat Karawang (NDK) lahir dari keresahan nyata seorang Ramadhan Dwi Saputra. Mahasiswa semester 6 Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) yang akrab dipanggil Addon ini melihat tren serupa di kota lain dan membatin kenapa di Karawang tidak ada gerakan serupa. Padahal di sana pasti banyak anak kos yang kelaparan juga.
Keresahan itu tidak hanya berhenti di kepala. Addon langsung bergerak memulainya dari membagikan makanan saat ia berulang tahun, berlanjut membagikan takjil saat bulan Ramadan, sampai akhirnya NDK resmi diluncurkan pada April 2026 melalui TikTok. Mekanismenya dibuat sesederhana mungkin, tetapi tetap punya saringan. Mahasiswa yang butuh makan wajib mengirimkan bukti sebagai mahasiswa aktif berupa foto KTM atau tangkapan layar portal akademik kampus.
Gerakan seperti ini sebenarnya mulai banyak. Di Jogja juga ada Nasi Darurat Jogja yang ramai sekali. Keren sih melihat kepedulian mereka. Kita harus mengaku kalau Addon dan kawan-kawan itu pahlawan. Tetapi di sisi lain, ada rasa canggung. Pahlawan seperti Addon ini sebenarnya tidak perlu ada kalau sistem di negara kita berjalan semestinya.
Di Balik Angka Kemiskinan yang Sering Bikin Bingung
Pemerintah sering banget kasih kabar kalau angka kemiskinan kita makin turun. Di atas kertas, angkanya memang kelihatan bagus dan sering jadi bahan kebanggaan. Tetapi, kadang realitanya beda jauh.
Garis kemiskinan itu dipatok di angka Rp595 ribu per bulan. Buat anak kos di Karawang, nominal itu buat bayar sewa kamar petakan saja sudah ngap-ngapan. Mahasiswa rantau yang uang sakunya habis di tengah bulan, yang tiap hari makan mi instan dicampur nasi biar kenyang, atau yang menahan lapar karena malu mau pinjam uang, mereka ini tidak masuk hitungan. Secara resmi, mereka bukan orang miskin. Tetapi secara nyata, perut mereka kelaparan.
Karawang itu kota industri raksasa. Pabriknya ada di mana-mana, standar gajinya paling tinggi se-Jawa Barat. Tetapi di sudut-sudut kampusnya, ada mahasiswa yang hidupnya bergantung pada sedekah nasi dari Addon. Kayak... ini ironis banget gak sih?
Di titik ini kita perlu ngobrol agak serius. KTM itu bukan sekadar kartu plastik biasa. Di situ ada nama lengkap, nomor induk, foto wajah, sampai nama kampus. Di zaman yang serba digital ini, memberi data selengkap itu sebenarnya bahaya banget.
Tetapi ya mau bagaimana lagi. Orang yang lagi menahan perihnya lambung jelas tidak akan kepikiran soal keamanan data, doxxing, atau ancaman Pinjaman Online (Pinjol) ilegal. Insting utamanya hanya satu, yaitu bagaimana caranya hari ini bisa makan.
NDK pasti niatnya baik banget. Tetapi akun media sosial personal kan tidak punya sistem keamanan sehebat institusi resmi. Padahal web kementerian saja kadang bisa kebobolan, apalagi hanya lewat Direct Message (DM) di TikTok. Ini bukan salah Addon sama sekali, lho. Ini lebih ke tamparan buat sistem kita. Sedih banget melihat mahasiswa dipaksa memilih antara menjaga privasi atau mengisi perut. Pilihan yang benar-benar berat dan tidak masuk akal.
Melihat gerakan seperti NDK ini bikin kita sadar kalau jiwa gotong royong kita tuh luar biasa. Tetapi di balik rasa haru itu, ini juga menjadi alarm yang bunyi kencang banget. Alarm yang kasih tahu kalau negara lagi absen dari tugasnya.
Kalau ingat pelajaran sekolah dulu, fakir miskin dan anak telantar itu kan dipelihara negara. Jadi kalau ada mahasiswa nyaris pingsan karena kelaparan, harusnya itu urusan pemerintah, bukan tanggung jawab mahasiswa semester 6 yang modal niat baik. Kita jadi berpikir, anggaran kesejahteraan yang sering dibilang triliunan itu larinya ke mana ya?
Memang sih ada beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Tetapi itu tidak menjangkau semua orang. Banyak mahasiswa di zona abu-abu, yang dianggap tidak cukup miskin buat dapat bantuan, tetapi nyatanya juga tidak cukup kaya buat bertahan di tengah naiknya biaya hidup. Mereka inilah yang sering tidak kelihatan oleh kebijakan negara, tetapi malah diselamatkan oleh empati Addon.
Kesimpulannya, kita boleh banget bangga sama Addon. Kita boleh terharu sama setiap bungkus nasi yang dibagikan. Tetapi, kita tidak boleh berhenti sampai di situ dan merasa semuanya sudah beres.
Viralnya NDK ini bukan pencapaian yang harus dirayakan oleh para pejabat. Ini justru cermin retak yang harusnya bikin elit pembuat kebijakan malu. Sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa viral warganya patungan beli nasi. Tetapi dari seberapa serius negara memastikan tidak ada satu pun warganya yang harus menggadaikan identitas supaya bisa makan malam.
Selama kampus belum punya kantin subsidi yang murah dan bantuan pemerintah belum merata, KTM bakal terus jadi tiket bertahan hidup. Dan sosok seperti Addon bakal terus bermunculan. Bukan karena mereka haus validasi ingin jadi pahlawan, tetapi karena mereka sadar ada kekosongan peran negara yang terpaksa harus mereka isi. Dan ya... Mungkin di situlah kita harus mulai sadar kalau keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Penulis: Saber Roam
Desainer: Irfan Fadhilah Husein