Kematian, bagi sebagian orang, datang sebagai akhir dari perjalanan panjang yang melelahkan. Namun, bagi seorang anak kecil di Nusa Tenggara Timur (NTT), kematian datang terlalu pagi, menjemputnya di antara heningnya rasa putus asa. Ia menyerah bukan karena dunia terlalu luas untuk dijelajahi, tetapi karena dunianya terasa terlalu sempit hanya untuk sekadar memiliki sebatang pena dan sebuah buku.

 

“Mama pelit sekali,” tulis YBR dalam surat terakhirnya sebelum ia memilih pergi selamanya. Kalimat itu bukan sekadar keluhan anak kecil, melainkan tamparan keras bagi kita semua. Rasanya sesak sekali membayangkan ada mimpi yang harus berhenti hanya karena benda seharga beberapa ribu rupiah.

 

Benda sekecil pena pun bisa memiliki berat yang setara dengan nyawa manusia. Bagi sebagian kita, beberapa ribu rupiah mungkin hanya angka tak berarti yang seringkali hilang di saku celana atau berakhir jadi kembalian terlupakan. Namun bagi seseorang di sana, angka itu adalah tembok raksasa pemisah antara mimpinya dan realitas yang mencekik.

 

Negara ini sering kali berbicara tentang kemajuan megah, tentang gedung-gedung pencakar langit, dan angka-angka anggaran yang triliunan jumlahnya. Tetapi, entah mengapa kemegahan itu terasa sangat jauh dan sunyi bagi mereka yang tinggal di tepian. Kita seolah lupa bahwa Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 bukan sekadar barisan kata tiada makna, melainkan sebuah mandat yang mewajibkan negara menjamin pendidikan bagi setiap nyawa tanpa terkecuali. Namun, ketika seorang anak harus menyerah karena tak mampu membeli pena, bukankah itu artinya janji konstitusi kita sedang dikhianati oleh realitas yang ada? 

 

Kita sering kali terlalu sibuk dengan perdebatan besar, hingga lupa bahwa di sudut-sudut terpencil, ada anak-anak yang harus bertaruh harga diri hanya untuk belajar. Kemiskinan di sini bukan sekadar urusan perut yang kosong, tetapi tentang harapan yang dipatahkan secara paksa. Ketika seorang anak memilih untuk pergi selamanya karena tak sanggup lagi menanggung beban 'ketiadaan', itu adalah tamparan yang paling sunyi sekaligus keras bagi kita semua. Terutama bagi mereka yang memegang kendali atas negeri ini.

 

Mungkin akan ada yang berkata ini hanya soal pola asuh, atau soal ketidaksabaran menghadapi hidup. Namun, bolehkah kita sedikit lebih jujur? Bagaimana bisa kita menuntut ketabahan luar biasa dari mereka yang sejak tangis pertama di dunia sudah dipaksa bersahabat dengan kekurangan? 

 

Jika suatu hari nanti kita masih ingin membanggakan negeri ini sebagai negeri yang besar, mari kita pastikan tidak ada lagi anak yang harus 'berhenti' sebelum waktunya. Pena itu seharusnya digunakan untuk menulis masa depan, untuk merangkai cerita-cerita indah, bukan menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah kehidupan.

 

Jangan lupakan tragedi ini. Jangan biarkan ia menguap begitu saja. Karena setiap kali kita memilih untuk abai, kita secara sadar perlahan sedang mematahkan pena-pena lain di luar sana yang sedang berusaha bertahan. Jangan sampai ada lagi anak yang merasa dunianya berakhir, hanya karena kita gagal menepati janji untuk mereka.

 

Penulis: Nayon

Desainer: Azizah Marzha