Bulan Ramadan selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu, apalagi bagi para mahasiswa perantau. Setelah berbulan-bulan hidup dengan tugas, deadline, dan menu mi instan berulang, pulang ke rumah sungguh memberikan sensasi ‘wah sekali’. Terbayang bisa makan masakan rumah, tidur nyaman, dan tidak perlu berpikir tentang tugas walaupun ya… realitasnya tugas tetap ngejar.

 

Menjelang lebaran, semua terasa lebih spesial. Grup keluarga mulai ramai, ibu bertanya kapan pulang, dan kita mulai sibuk cari tiket (yang harganya kadang membuat dompet ikut puasa). Tetapi, tetap saja dijabanin, karena ada satu hal yang tidak bisa diganti, yaitu rasa pulang.

 

Tetapi, ternyata pulang tidak selalu sehangat yang dibayangkan. Ada momen-momen kecil yang bikin kita berpikir, “kok agak beda, ya?” Bahkan, di beberapa detik, kita bisa merasa seperti orang asing di rumah sendiri.

 

Nah, ini dia beberapa momen ekspektasi vs realita yang sering dirasakan mahasiswa saat pulang ke rumah.

 

1. Ekspektasi: Pulang Disambut Hangat, Realita: Kikuk di Depan Pintu

 

Sudah terbayang sekali momen turun dari kendaraan, masuk rumah, terus langsung disambut pelukan keluarga. Apalagi kalau sudah lama tidak pulang, rasanya ingin langsung ‘balas rindu’.

 

Tetapi realita kadang malah ada jeda canggung.

 

Berdiri di depan pintu, ngetok pelan, lalu saat dibuka… “eh, udah sampai?” sambil senyum. Hangat sih, tetapi tidak selalu dramatis seperti yang dibayangkan. Bahkan kita sendiri kadang bingung harus bereaksi seperti apa.

 

Kayak… ini rumah sendiri, tetapi rasanya seperti baru pertama kali datang lagi.

 

2. Ekspektasi: Kamar Jadi Tempat Healing, Realita: Berubah Total

 

Sebagai mahasiswa, kamar di rumah ibarat ‘safe place’. Tempat rebahan tanpa mikir apa pun, tanpa suara notifikasi dosen atau grup kelas.

 

Ekspektasinya, kamar masih sama seperti dulu.

 

Tetapi saat dibuka… berbeda.

 

Ada yang kamarnya sudah dipakai adik, sebagian mengalami perubahan tata letak, bahkan beberapa mendapati barang-barangnya sudah tidak lengkap lagi. Yang dulu terasa ‘gue banget’, sekarang malah terasa asing.

 

Akhirnya rebahan pun jadi agak awkward. Kayak… ini tempat nyaman, tetapi tidak senyaman yang diingat?

 

3. Ekspektasi: Ngobrol Seru Sama Teman Lama, Realita: Topiknya Sudah Berbeda

 

Pulang kampung jadi ketemu teman lama. Sudah terbayang bakal cerita panjang, ketawa, dan nostalgia masa sekolah.

 

Awalnya memang seru. Tetapi lama-lama mulai terasa berbeda.

 

Sebagian teman sudah kerja, beberapa sudah menikah, bahkan sebagian sudah punya anak. Sementara kita masih berkutat dengan tugas, skripsi, revisi, dan dosen pembimbing yang kadang ‘menghilang’.

 

Obrolan jadi agak tidak nyambung. Mereka cerita soal dunia kerja, kita cerita soal deadline. Mereka ngomong cicilan, kita masih berpikir “ini bab 4 kapan kelar ya

 

Akhirnya hanya bisa tertawa sambil dalam hati berpikir, “anjir, kita udah beda fase ya sekarang.”

 

4. Ekspektasi: Pulang = Bebas dari Tugas, Realita: Tetap Dikejar Deadline

 

Ini nih yang paling relate buat mahasiswa.

 

Niatnya pulang mau istirahat total. Tidak buka laptop, tidak berpikir tentang tugas, pokoknya full recharge.

 

Tetapi kenyataannya? Laptop tetap ikut pulang.

 

Dan bukannya dikerjakan, malah cuma dibuka sebentar, terus ditutup lagi. “Nanti aja deh, selagi masih di rumah.” Akhirnya deadline, makin dekat, panik datang belakangan.

 

Pulang jadi campur aduk, antara ingin santai tetapi juga dihantui tugas yang belum selesai.

 

5. Ekspektasi: Pulang Untuk Ketenangan, Realita: Jadi Banyak Ditanya

 

Harusnya rumah jadi tempat paling aman, ya. Tetapi kadang justru jadi tempat yang penuh pertanyaan.

 

“Sekarang semester berapa?”

“Kapan lulus?”

“Habis ini mau kerja di mana?”

 

Pertanyaan klasik, tetapi kalau lagi capek atau overthinking, rasanya bisa berat sekali.

 

Apalagi kalau ditambah, “itu si A udah kerja, lho…”

Auto senyum tipis sambil jawab, “hehe iya…”

 

Niatnya pulang untuk ketenangan, tetapi malah jadi kepikiran lagi.

 

6. Ekspektasi: Semua Akan Terasa Sama, Realita: Kita yang Sudah Berubah

 

Ini bagian yang paling kerasa.

 

Kita sering berpikir rumah sudah berubah, atau suasananya terasa beda. Padahal, bisa jadi… kita sendiri sudah tidak sama lagi.

 

Dulu mungkin betah di rumah, sekarang malah gampang bosan. Dulu nyaman dengan suasana sepi, sekarang malah butuh ‘keramaian’ ala kehidupan kampus.

 

Hal-hal kecil jadi terasa berbeda. Bahkan kebiasaan kita pun berubah.

 

Dan di situlah muncul perasaan asing itu. Bukan karena rumahnya berubah total, tetapi karena kita membawa versi diri baru ke tempat lama.

 

Kalau dipikir-pikir, wajar sih muncul perasaan kayak gini . Mahasiswa, apalagi yang merantau, pasti mengalami banyak perubahan mulai dari cara pikir, kebiasaan, sampai cara melihat hidup.

 

Jadi ketika pulang, momennya bukan sekadar ‘kembali ke rumah’, tetapi mempertemukan dua versi diri, versi dulu dan sekarang.

 

Dan ya… kadang pertemuan itu tidak langsung ‘klik.

 

Pada akhirnya, pulang bukan tentang kembali menjadi diri lama. Tetapi tentang menerima bahwa kita sudah berubah, dan itu bukanlah sebuah kesalahan.

 

Rasa canggung itu bukan tanda kita menjauh dari rumah. Justru itu tanda bahwa kita lagi bertumbuh.

 

Jadi, kalau kamu pernah merasa kayak tamu di rumah sendiri… chill, kamu tidak sendirian.

 

Mungkin pulang memang tidak selalu sempurna. Tetapi pelan-pelan, kita akan menemukan lagi rasanya. Bukan karena semuanya kembali seperti dulu, tetapi karena kita mulai menerima versi baru dari diri kita sendiri.

Dan mungkin, di situ letak ‘pulang’ yang sebenarnya.

 

Penulis: Adittiya Warman

Desainer: Azizah Marzha