Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Singaperbangsa Karawang (BEM FAI Unsika) bersama Gusdurian Karawang menyelenggarakan Diskusi Reflektif Hari Santri Nasional 2026 di Aula Pesantren Nihayatul Amal, Rawamerta, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta dari sejumlah pesantren di Karawang ini mengangkat tema “Merawat Santri, Merawat Bumi: Kesehatan Mental, Pesantren, dan Masa Depan Berkelanjutan”. Diskusi tersebut menjadi ruang refleksi mengenai peran santri dalam kehidupan masyarakat sekaligus tantangan yang dihadapi pesantren di tengah perkembangan zaman.
Ketua pelaksana kegiatan, Ikhsan Abdul Aziz, menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut dilatarbelakangi oleh sejumlah persoalan yang berkaitan dengan kehidupan santri dan lingkungan pesantren.
“Yang pertama terkait kesehatan mental para santri-santri, yang kedua terkait kondisi lingkungan, kebersihan lingkungan di pesantren, dan yang ketiga itu ada kemandirian ekonomi untuk para santri. Nah, itu salah satu motivasi kenapa kita mengambil grand tema tersebut,” ungkapnya saat diwawancarai secara langsung, Rabu (21/10/2026).
Ikhsan menyampaikan bahwa peserta kegiatan sebagian besar merupakan delegasi dari sejumlah pesantren di Karawang. Sebelum kegiatan berlangsung, panitia telah melakukan sosialisasi kepada beberapa pesantren untuk mengajak santri berpartisipasi dalam diskusi reflektif.
“Untuk pesertanya itu diperkirakan ada sekitar 50 peserta. Beberapa peserta itu sebagian besar adalah delegasi masing-masing pesantren yang berada di daerah Karawang khususnya,” jelasnya.
Ikhsan mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan mempererat hubungan antarpesantren sekaligus meningkatkan kepedulian santri terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Melalui diskusi tersebut, peserta diharapkan memperoleh wawasan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mungkin untuk tujuan utamanya, mempererat tali silaturahmi antara masing-masing pondok pesantren, terus juga mempererat tali silaturahmi antara pihak penyelenggara dengan pihak pesantren juga,” ungkapnya.

Suasana Diskusi Reflektif di Aula Pesantren Nihayatul Amal, Rabu (21/10/2026).
Salah satu pemateri, Mohamad Rifky Anugrah Pratama, menyoroti pentingnya peran santri dalam menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah kehidupan masyarakat. Menurutnya, keberadaan santri menjadi salah satu unsur yang mendukung terjaganya nilai agama dalam kehidupan sosial.
“Santri itu tidak bisa lepas dari sebuah peran penting untuk menjaga integritas kehidupan sosial,” ujarnya saat diwawancarai secara langsung, Rabu (21/10/2026).
Selain menjaga nilai keagamaan, santri juga menghadapi tantangan dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Ia pun menilai keterbatasan fasilitas pendukung pembelajaran di sebagian pesantren menjadi salah satu kendala dalam proses adaptasi tersebut.
“Beberapa pesantren yang saya lihat masih bersifat tradisional, jadi secara teknologi masih tertinggal. Dalam artian, bukan ketidakmampuan dalam proses menggunakannya, cuman pelengkap fasilitas di dalam proses pembelajarannya,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan santri perlu diimbangi dengan kemampuan berkomunikasi agar mereka dapat berinteraksi dengan masyarakat secara lebih luas. Kemampuan tersebut dinilai penting agar penguasaan ilmu agama dapat berjalan beriringan dengan keterampilan menghadapi perkembangan zaman.
“Perkembangan teknologi perlu dimasukkan supaya untuk melatih kemampuan komunikasi yang juga seimbang. Bukan hanya tentang keilmuan agamanya, tapi bagaimana keilmuan dia dalam berkomunikasi di masyarakat,” ungkapnya.
Rifky berpesan agar santri tetap berpegang pada nilai-nilai yang telah dipelajari selama menempuh pendidikan di pesantren, sekalipun telah berada di luar lingkungan pesantren dan menghadapi perkembangan zaman.
“Santri tetaplah santri walaupun ada di luar pondok pesantren,” pesannya.
Ikhsan berharap peserta dapat menerapkan wawasan yang diperoleh selama diskusi sehingga nilai-nilai yang dibahas tidak berhenti pada pemahaman, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Diharapkan untuk semua santri dan semua pihak yang terlibat di sini bukan hanya sekadar menambahkan wawasan mereka, tetapi juga bisa mengimplementasikan nilai-nilai yang memang sudah dijelaskan di grand tema yang tadi disampaikan oleh beberapa narasumber,” harapnya.
CLS, ASP