Akses internet atau yang akrab disebut mahasiswa Wi-Fi menjadi salah satu fasilitas penunjang kegiatan akademik mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika). Namun, aksesibilitas Wi-Fi yang tersedia di lingkungan kampus masih perlu dipertanyakan. Keluhan koneksi yang lambat ketika digunakan banyak pengguna hingga berujung pada jaringan yang terputus menjadi keluhan yang tak asing di telinga mahasiswa. Kemudian, bagaimana sebetulnya cara sivitas kampus mengelola sarana Wi-Fi?
Hambatan Aksesibilitas Sarana Wi-Fi bagi Mahasiswa
Salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Unsika, N (disamarkan), mengaku jarang menggunakan Wi-Fi kampus. Ia memilih menggunakannya ketika perangkat berhasil terhubung dan jaringan dalam kondisi cepat.
“Wi-Fi kampus bisa dibilang aku jarang pakai. Kalaupun aku pakai itu kalau misalkan emang tersambung dan emang jaringannya kencang saja gitu,” ucapnya saat diwawancarai pada Jumat (18/9/2026).
Kondisi serupa juga N rasakan ketika menggunakan Wi-Fi untuk mengikuti perkuliahan di laboratorium Fasilkom. Koneksi yang lambat dan kerap terputus membuatnya harus beralih menggunakan kuota internet pribadi. Menurut N, kondisi tersebut cukup mengganggu karena Wi-Fi merupakan fasilitas yang seharusnya dapat digunakan mahasiswa.
“Karena emang jaringannya lambat jadi kadang di device aku tuh lebih sering keputus sendiri gitu loh. Jadi, ya mau enggak mau harus pakai data pribadi. Kalau dari pengalaman aku pribadi itu emang lumayan cukup mengganggu ya karena kan sebenarnya itu harusnya fasilitas yang bisa kita rasain gitu sebagai mahasiswa,” keluhnya.
Selain kegiatan di dalam kelas, N mengatakan mahasiswa juga membutuhkan akses internet ketika mengerjakan tugas setelah perkuliahan. Ia ingin ada perbaikan koneksi internet kampus supaya dapat dirasakan oleh seluruh mahasiswa.
“Karena lumayan sering habis kelas enggak langsung pulang, bisa ada tugas dan lain-lain dan itu sebenarnya butuh banget Wi-Fi dari kampus gitu.”
Wi-Fi yang Tidak Berjalan dengan Baik Pungut Dana 2,2 Miliar
Persoalan Wi-Fi turut menjadi perhatian Menteri dari Kementrian Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM U) Unsika, Bagus Rizki Widianto. Ia menilai masih terdapat kesenjangan antara internet yang tersedia dengan kondisi yang dirasakan mahasiswa di lapangan. Berdasarkan temuan tim Kementerian Kastrat, masih terdapat mahasiswa yang kesulitan mengakses Wi-Fi kampus, sementara sebagian lainnya bahkan tidak mengetahui keberadaan fasilitas tersebut.
“Nah, yang kita lihat realitanya ternyata di lapangannya tuh dengan anggaran sebesar itu mahasiswa Unsika masih kesusahan untuk memiliki akses menggunakan Wi-Fi tersebut. Bahkan kita bisa melihat ada dari beberapa mahasiswa yang ada di kampus 2 dan di kampus 1 mereka tuh bahkan ada beberapa yang belum tahu bahwa di kampus kita tuh punya Wi-Fi,” jelasnya saat diwawancarai via Google Meet, Jumat (31/7/2026).
Sementara itu, Bagus menyoroti besaran anggaran internet yang mencapai Rp2,2 miliar. Menurutnya, penggunaan anggaran tersebut perlu mendapat perhatian, terutama karena ia menilai belum ada transparansi dari pihak rektorat mengenai anggaran tersebut.
“Mengenai anggaran tersebut menurut saya sangat begitu besar. Perihal 2,2 miliar dan kita bisa melihat bahwa tidak ada transparansi dari pihak rektorat dengan anggaran sebesar itu,” ujarnya.

Anggaran langganan internet Unsika dalam laporan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), Minggu (2/8/2026).
Ia juga menilai anggaran tersebut berpotensi menjadi pemborosan jika tidak dibarengi dengan perbaikan fasilitas kampus lainnya yang masih dibutuhkan mahasiswa.
“Hal tersebut adalah suatu pemborosan anggaran. Karena kenapa saya bisa mengucapkan seperti itu? (Karena) kita bisa melihat bahwa di kampus kita sendiri itu masih banyak fasilitas-fasilitas yang harus diperbaiki,” tambahnya.
Faktor Hambatan Aksesibilitas Wi-Fi dan Alokasi Anggaran Langganan Internet
Menanggapi persoalan koneksi Wi-Fi yang dirasakan mahasiswa, Koordinator Bidang Infrastruktur di bawah Unit Pelaksana Akademik Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPA TIK), Agung Susilo Yuda Irawan, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi kualitas koneksi Wi-Fi.
Menurutnya, kualitas koneksi Wi-Fi tidak hanya dipengaruhi oleh bandwidth dan perangkat jaringan yang digunakan kampus, tetapi juga dari perangkat yang digunakan oleh mahasiswa. Perbedaan spesifikasi dan usia perangkat dapat membuat kecepatan internet yang diterima setiap pengguna berbeda meskipun terhubung pada jaringan yang sama.
“Kita analogikan pertama gini, bandwidth sudah bagus, alat sudah bagus, Wi-Fi sudah tersedia, tapi perangkat handphone kita itu terbatas. Kita gunakan Wi-Fi yang sama, pasti kecepatan bandwidth antara perangkat ini dengan yang lain berbeda,” jelasnya saat diwawancarai langsung, Rabu (16/9/2026).
Faktor lainnya berkaitan dengan kepadatan jaringan dalam satu area. Menurut Agung, banyaknya jaringan Wi-Fi atau Service Set Identifier (SSID) yang aktif pada area yang sama dapat menimbulkan bentrokan pada channel atau frekuensi yang digunakan. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi kualitas dan kecepatan bandwidth yang diterima pengguna.
“Di dalam satu area Wi-Fi-nya normal enggak kalau banyak (jaringan) seperti ini? Kalau di ilmu komputer ada yang namanya channel, ada namanya frekuensi. Bandwidth bagus, alat bagus, handphone-nya sudah bagus, tapi dalam satu area ini banyak SSID-nya itu mempengaruhi juga, karena frekuensinya channel-nya bentrok sehingga mengakibatkan turunnya bandwidth,” tambahnya.
Selain faktor perangkat pengguna dan kepadatan jaringan, keterbatasan pengadaan perangkat juga disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengembangan jaringan Wi-Fi di Unsika. Ia menjelaskan bahwa pengadaan perangkat dan kabel di perguruan tinggi negeri harus melalui proses perencanaan serta mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“(Pengadaan) alat kalau di Unsika terutama negeri itu kan tidak sembarangan seperti swasta ya enak. Nah, alat kita kan salah satunya terbatas karena satu pengadaan kabel tidak bisa, itu harus direncanakan dulu. Beli alat pun sekarang kan ada aturan TKDN dan sebagainya. Sedangkan kalau alat-alat elektro saya yakin di atas 80-90% TKDN. Enggak jarang ada ya, kebanyakan impor, itu yang sulit. Sehingga saya memanfaatkan alat yang ada,” lanjutnya.
Agung juga menjelaskan bahwa access point telah tersedia di sejumlah fakultas. Namun, akses jaringan di area Fakultas Agama Islam (FAI) belum sepenuhnya tersedia. Ia menyebut pemasangan access point di area tersebut dilakukan secara bertahap karena keterbatasan dan masih dalam proses pemasangan.
“Di Fasilkom satu lantai itu saya berikan tiga akses, di FISIP cek kalau enggak salah ada tiga atau empat, di FKIP setiap lantai ada, di G5 Teknik ada, di Fakultas Hukum ada. Cuman kelas FAI emang belum karena bertahap ya keterbatasan kemarin kabarnya sudah ada, sekarang kabarnya baru ada lagi proses pemasangan,” paparnya.

Access point WiFi di lantai 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Senin (21/9/2026).
Selain itu, Agung menjelaskan bahwa anggaran internet sebesar Rp2,2 miliar digunakan untuk kebutuhan internet di Unsika kampus satu dan dua. Penggunaan internet juga tidak seluruhnya dialokasikan untuk layanan Wi-Fi mahasiswa, tetapi dibagi untuk kebutuhan mahasiswa, unit kerja, dan server yang digunakan untuk mendukung berbagai layanan kampus. Menurutnya, sebagian bandwidth dialihkan untuk server karena sejumlah sistem seperti Siska, Elvira, dan layanan lainnya juga membutuhkan koneksi internet.
“2 miliar memang itu untuk internet, itu untuk dua kampus. Nah, dari (anggaran) internet yang ada sebenarnya kita tidak difokuskan semuanya ke Wi-Fi. Kita bagi-bagi sebenarnya berapa persen ke mahasiswa, berapa persen ke unit kerja, dan berapa persen ke server. Sehingga yang lebih banyak itu dialihkan ke server sebenarnya, terus ada sistem-sistem yang lainnya membutuhkan bandwidth juga gitu,” jelasnya.
Saat ini ia tengah berfokus memperluas jangkauan akses jaringan di lingkungan kampus. Perluasan tersebut dilakukan agar akses Wi-Fi tidak hanya terpusat di area tertentu saja. Ia berharap akses jaringan Wi-Fi dapat tersebar lebih merata sehingga mahasiswa dapat mengakses internet di lebih banyak area kampus.
“Itu sih yang memang fokus saat ini saya sedang lakukan gitu, sedang memperluas jarak akses jaringan saja gitu, sehingga tidak bertumpu pada satu area gitu, bisa tersebar, harapannya gitu,” harapnya.
(PNY, YTZ)